Doa Seorang Anak

Bunda,

Masih ingatkah bunda akan suara tangis ananda ketika pertama kali dilahirkan di dunia ini,
masih ingatkah bunda bagaimana bunda dengan sambil menahan rasa sakit yang dirasa tapi dilupakan semua itu hanya karena ingin memeluk ananda yang lemah ini,
masih ingatkah bunda bagaimana dengan sabarnya menjaga dan menyusui ananda yang saat itu belum bisa apa-apa, walaupun harus menyita waktu istirahat bunda

Bunda,

Bila ananda tatap wajahmu, membelai rambutmu, mengingat namamu dan melihat senyum mu
Maka yang ananda lihat adalah bagaikan seorang malaikat yang turun ke bumi
Serasa terbang jiwa ini tatkala melihat bunda bahagia dan tersenyum,
Serasa bagai di kelilingi malaikat penjaga tatkala bunda memegang tangan ini dan memeluk tubuh ini

Bunda,

Dalam jiwa dan tubuh ini mengalir jiwamu,
Dalam darah yang mengalir di seluruh tubuh ini mengalir darahmu.
Engkau bagaikan belahan jiwa yang ada di tubuh ini, itulah kenapa terasa sakit sekali jiwa dan hati ini saat ananda melihat bunda tersakiti, saat ananda melihat bunda menangis.
Biarlah tubuh ini terluka, biarlah jiwa ini terbang, biarlah hati ini hancur asalkan bunda tidak tersakiti, asalkan bunda merasa bahagia, asalkan bunda jangan menangis dan menderita.

Bunda,

Demi cinta dan sayangmu kepada ananda, engkau rela menderita
Engkau rela mengorbankan kepentingan dirimu hanya untuk sedetik kebahagian ananda
Engkau rela melangkahi jalan berduri demi setapak jalan kesuksesan ananda
Engkau pun rela melepas masa masa mudamu demi melihat tumbuhnya ananda.

Bunda,

Terberkatilah dirimu wahai bunda,
Engkaulah salah satu anugerah terbesar yang Allah pernah turunkan di dunia ini,
Karena ridho mu adalah rindhonya Allah SWT
dan di bawah telapak kakimu, adalah surganya Allah SWT

Bunda,

Pernah dalam suatu malam, ananda mendengar lirih suaramu
Dalam sholat malam mu terlantun kata-kata cinta yang terucap indah
Mengalun, berzikir dalam kidung doamu.
Dalam doamu bunda berharap kelak ananda menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, menjadi anak yang sholeh yang mampu mendoakan orang tua nya, menjadi pemimpin yang adil dalam keluarga, dan dalam doamu bunda juga selalu memaafkan atas apa-apa dosa yang telah ananda perbuat, bahkan bunda memohonkan maaf dosa-dosa ananda kepada Allah SWT…

Mungkin itulah sebabnya, kenapa Rasulullah, manusia yang paling mulia, kekasih Allah yang paling disayangi-Nya pernah berkata bahwa orang yang paling berhak terhadap diri seorang hamba adalah Ibumu, Ibumu, Ibumu lalu bapakmu.

Maafkan ananda wahai ibunda tercinta,
maafkan ananda yang kerdil dan tidak tahu berterima kasih ini,
maafkan ananda yang selalu membuat bunda menangis dimalam hari,
maafkan ananda yang tidak pernah bisa membahagiakan ibunda

Bunda,

Walaupun habis waktu 1000 tahun umur ini untuk bekerja melayanimu,
walaupun habis air di lautan untuk menuliskan kebaikanmu selama ini,
walaupun habis emas sebesar gunung uhud hanya untuk membayar semua hal yang pernah bunda lakukan
Maka tidak akan pernah terbayar itu semua
Hanyalah Allah yang mampu membalas itu semua, dan balasan terbaiknya adalah syurga

Bunda,

Waktu semakin jauh berjalan
Siang dan malam datang bergantian mengisi rongga-rongga kehidupan
Ananda yang dulu selalu di ayun dan di papah sekarang telah bisa berjalan
Ananda yang dulu kecil dan lemah sekarang telah dewasa
Waktu yang ditunggu pun akhirnya datang,
Penantian ini telah berakhir,
Doa Yusuf ini yang tengah menanti seorang Zulaikha tambatan hati
Akhirnya Allah kabulkan jua

Bunda,

Dengarkanlah, sebentar lagi ananda akan melangkah
Tuk menyusuri waktu, menjemput cinta
Mencari hakikat kehidupan dan menjalaninya bersama seorang bidadari

Bunda,

Lepaskanlah, Lepaskanlah ananda ke samudera biru
Tuk mengarungi sebuah kehidupan yang baru
Dalam sebuah bahtera rumah tangga

Bunda,

Doakanlah ananda, doakanlah ananda dengan segenap penuh keikhlasan dan ketulusan
Lepaskanlah ananda dengan penuh maafmu bunda,
Tenteramkanlah hati ananda, dengan restu, ridha dan kasih sayangmu

 

Bunda,

Cintamu tak akan pernah terganti, kasih sayangmu tak akan pernah terbeli
Izinkanlah ananda melaksanakan tugas ini dan Menjalankan amanah ini,
Sebagai bagian dari bentuk ketaatan ananda kepada Allah SWT dan mengikuti sunnah Nabinya yang mulia

Bunda,

Izinkanlah ananda melaksanakan sebagian dari doa bunda,
Yaitu menjadi lelaki yang sejati, menjadi pemimpin yang sejati dalam keluarga
Menjadi manusia yang berbakti kepada keluarga, masyarakat, bangsa dan agama ini
Membentuk keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah

Bunda,

Ikhlaskanlah ananda,
Sesungguhnya, kemanapun ananda melangkah
Maka bunda akan selalu ada disana
Karena separuh nafas yang ada di raga ini adalah milikmu,
dan tak akan pernah hilang rasa bakti ananda, hingga kelak nafas ini terputus dari raganya

Dari anakmu yang tercinta

Apa itu MLM (Multi Level Marketing)

Pemasaran berjenjang (bahasa Inggris: multi-level marketing) adalah sistem penjualan yang memanfaatkan konsumen sebagai tenaga penyalur secara langsung. Harga barang yang ditawarkan di tingkat konsumen adalah harga  produksi ditambah komisi yang menjadi hak konsumen karena secara tidak langsung telah membantu kelancaran distribusi.

Keanggotaan

Promotor (upline) biasanya adalah anggota yang sudah mendapatkan hak keanggotaan terlebih dahulu, sedangkan bawahan (downline) adalah anggota baru yang mendaftar atau direkrut oleh promotor. Akan tetapi, pada beberapa sistem tertentu, jenjang keanggotaan ini bisa berubah-ubah sesuai dengan syarat pembayaran atau pembelian tertentu.

Komisi yang diberikan dalam pemasaran berjenjang dihitung berdasarkan banyaknya jasa distribusi yang otomatis terjadi jika bawahan melakukan pembelian barang. Promotor akan mendapatkan bagian komisi tertentu sebagai bentuk balas jasa atas perekrutan bawahan.

Kontroversi

Seringkali ditemukan kerancuan istilah antara pemasaran berjenjang dengan permainan uang (money game). Pemasaran berjenjang pada hakikatnya adalah sebuah sistem distribusi barang. Banyaknya bonus didapat dari omzet penjualan yang didistribusikan melalui jaringannya. Hal ini sangat berbeda dengan permainan uang. Bonus seringkali didapat dari perekrutan, bukan omzet penjualan.

Sistem permainan uang cenderung menggunakan skema piramida (atau skema Ponzi) dan orang yang terakhir bergabung akan kesulitan mengembangkan bisnisnya. Dalam pemasaran berjenjang, walaupun dimungkinkan telah memiliki banyak bawahan, tetapi tanpa omzet tentu saja bonus tidak akan diperoleh.

Informasi tentang jenis pemasaran berjenjang yang benar dapat mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 13/M-DAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Izin Usaha Penjualan Langsung dengan memuat larangan tegas yang tercantum pada bab VII.

Masalah di dalam pemasaran berjenjang sering terjadi bila sistem komisi menjurus pada permainan uang. Biaya keanggotaan bawahan secara virtual telah dibagikan menjadi komisi promotor sementara harga barang menjadi terlalu mahal untuk menutupi pembayaran komisi kepada promotor. Dalam jangka panjang, hal ini membuat komisi menjadi tidak seimbang, di mana komisi telah melebihi harga barang dikurangi harga produksi.

Hal ini tentu akan membuat membuat konsumen di tingkat tertinggi mendapatkan harga termurah atau bahkan mendapatkan keuntungan bila mengetahui cara mengolah jaringannya, sedangkan konsumen yang baru bergabung mendapatkan kerugian secara tidak langsung karena mendapatkan harga termahal tanpa mendapatkan komisi atau komisi yang didapatkan tidak sesuai dengan usaha yang telah dilakukan sehingga akhirnya anggota baru tersebut terangsang untuk mencari konsumen baru agar mendapat komisi yang bisa menutupi kerugian virtual yang ditanggungnya.

Pelanggaran bisa pula terjadi bila perusahaan penyedia sistem pemasaran berjenjang menjanjikan sesuatu berlebih yang tidak mungkin bisa dicapai konsumen. Misalnya, jika konsumen bisa mendapatkan 10 jenjang jaringan yang setiap jenjangnya harus berisi 10 anggota, maka ia akan mendapatkan bonus Rp 10 Miliar. Sepintas hal ini terlihat menggiurkan dan mudah, tetapi jika konsumen menggunakan akal sehatnya, ia sebenarnya harus merekrut 1010 bawahan atau 100 juta anggota baru (hampir separuh penduduk Indonesia).

Dewasa ini, telah berkembang sistem pemasaran viral yang merupakan salah satu bagian model pemasaran berjenjang. Beberapa hal yang membedakan antara lain:

  • Tidak ada bonus perekrutan karena bebas biaya bergabung.
  • Produk yang dipasarkan merupakan produk dinamis, misalnya pulsa telepon seluler.
  • Bonus hanya diperoleh dengan adanya pemesanan berulang.
  • Harga produk lebih murah atau hampir sama dengan harga pasar konvensional.
  • Komisi atau bonus tiap transaksi yang dilakukan relatif kecil.
  • Bonus akan signifikan pada jaringan yang besar.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, pemasaran viral dipercaya dapat membuat kompetisi di pasar konvensional menjadi semakin menarik karena pada dasarnya keunggulan pemasaran berjenjang adalah captive market yang tersistem ditambah dengan konsep pemasaran konvensional yang bertumpu pada harga dan produk.

Source : http://id.wikipedia.org/wiki/Pemasaran_berjenjang

Nyalakan Lilin

Apa arti sebuah lilin dalam kehidupan? Mungkin ini terlalu dipertanyakan. Sebab, lilin hanya sebuah benda kecil. Kegunaannya baru Nampak ketika lampu listrik di rumah kita padam. Tapi, lilin adalah cahaya. Dan cahaya merupakan sebentuk materi. Kebalikannya adalah gelap. Yang terakhir ini bukan materi. Ia tidak memiliki daya. Ia adalah keadaan hampa cahaya. Karena itu, meskipun kecil, lilin selalu dapat mengusir gelap.

Allah memisalkan petunjuk dengan cahaya, kesesatan sebagai gelap. Ini mengisyaratkan, pasukan kesesatan tak memiliki sedikitpun daya di depan pasukan cahaya. Ia hadir ketika pasukan cahaya menghilang. Sepanjang sejarah, umat kita mengalami kesesatan ketika ‘roda pergerakan syiar dakwah’ berhenti bergerak.

Disini tersirat sebuah kaidah syiar dakwah. Bahwa gelap yang menyelimuti langit kehidupan kita, sebenarnya dapat diusir dengan mudah, bila kita mau menyalakan lilin syiar ini kembali. Berhentilah mengikuk gelap. Ia toh tak berwujud dan tak berdaya. Kita tak perlu memanggil matahari untuk mengusirnya. Tidak juga bulan.

Tak ada yang dapat kita selesaikan dengan kutukan. Sama seperti tak bergunanya, ratapan di depan sebuah bencana. Musibah, jahiliyah, kekalahan yang sekarang merajalela di seantero dunia Islam kita, tak perlu ‘di islah’ dengan kutukan ataupun ratapan. Sebab kedua tindakan itu tidak menunjukan sikap ‘Ijabiyah’ (positif) dalam menghadapi realita. “Adalah lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada mengutuk kegelapan”.

Sikap ijabiyah menuntut kita untuk menciptakan kehadiran yang berimbang dengan kehadiran fenomena jahiliyah dalam pentas kehidupan. Ini mungkin tak kita selesaikan dalam sekejap. Tapi sikap mental imani yang paling minimal, yang harus terpatri dalam jiwa kita, adalah membuang keinginan untuk pasrah atau menghindari kenyataan. Kenyataan yang paling buruk sekalipun, tidak boleh melebihi besarnya kapasitas jiwa dan iman kita untuk menghadapinya.

Disini ada sebuah pengajaran yang agung. Bahwa sudah saatnya kita membuang kecenderungan meremehkan potensi diri kita. Ketika kita mempersembahkan sebuah amal yang sangat kecil, saat itu kita harus membesarkan jiwa kita dengan mengharap hasil yang memadai. Sebab amal yang kecil itu, selama ia baik, akan mengilhami kita untuk melakukan amal yang lebih besar. Ibnul Qayyim mengatakan, sunnah yang baik, akan mengajak pelakunya melakukan ‘saudara-saudara’ sunnah itu.

Akhirnya, tutuplah matamu dan nyalakan lilin, lalu: “Katakanlah, telah datang kebenaran. Sesungguhnya kebatilan itu pasti sirna”.

Arsitek Peradaban, Anis Matta.

CINTA di ATAS CINTA

Sumber : Tarbawi 55/4/Muharram 1424H
oleh: Anis Matta, Lc.

Perempuan oh perempuan! Pengalaman bathin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi, misalnya jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan? Keagungan!

Itulah, misalnya, pengalaman bathin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya Umar seorang ulama, bahkan seorang mujtahid. Tapi ia dibesarkan di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan.

Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya.

Tapi, begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya justru tumbuh mendadak pada detik inagurasi nya. Iapun bertaubat. Sejak itu ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. Aku takut pada neraka katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama terbesar zamannya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya, Al Zuhri.

Ia memulai perubahan besar itu dari dari dalam dirinya sendiri, istri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras ini membuahkan hasil; walaupun hanya memerintah dalam 2 tahun 5 bulan, tapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulafa Rasyidin. Maka iapun digelari Khalifah Rasyidin kelima.

Tapi itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah istrinya datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Tapi istrinya, Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan cemburu. Sekarang justru sang istrilah yang membawanya sebagai hadiah. Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril kepada suaminya.

Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling mengharu- biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali, dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap jiwanya. Tapi saat cinta ini hadir di jalan pertaubatannya, ketika cita-cita perubahannya belum selesai.

Cinta dan cita bertemu atau bertarung, di sini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru. Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tidak ada! Tapi, Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini, Kata Umar.

Cinta yang terbelah dan tersublimasi diantara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta! Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.

Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang? Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam!

TRAGEDI CINTA

oleh: Anis Matta, Lc.

Ada sisi lain yang menarik dari pengalaman emosional para pahlawan yang berhubungan dengan perempuan. Kalau kebutuhan psikologis dan bilogis terhadap perempuan begitu kuat pada para pahlawan, dapatkah kita membayangkan seandainya mereka tidak mendapatkannya?

Rumah tangga para pahlawan selalu menampilkan, atau bahkan menjelaskan, banyak sisi dari kepribadian para pahlawan. Dari sanalah mereka memperoleh energi untuk bekerja dan berkarya. Tapi jika mereka tidak mendapatkan sumber energi itu, maka kepahlawanan mereka adalah keajaiban di atas keajaiban. Tentulah ada sumber energi lain yang dapat menutupi kekurangan itu, yang dapat menjelaskan kepahlawanan mereka.

Ibnu Qoyyim menceritakan kisah Sang Imam, Muhammad bin Daud Al Zhahiri, pendiri mazhab Zhahiriyah. Beberapa saat menjelang wafatnya, seorang kawan menjenguk beliau. Tapi justru Sang Imam mencurahkan isi hatinya, kepada sang kawan, tentang kisah kasihnya yang tak sampai. Ternyata beliau mencintai seorang gadis tetangganya, tapi entah bagaimana, cinta suci dan luhur itu tak pernah tersambung jadi kenyataan. Maka curahan hatinya tumpah ruah dalam bait-bait puisi sebelum wafatnya.

Kisah Sayyid Quthub bahkan lebih tragis. Dua kalinya ia jatuh cinta, dua kali ia patah hati, kata DR. Abdul Fattah Al-Khalidi yang menulis tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid Quthub pergi ke Kairo untuk belajar. Sayyid menangisi peristiwa itu.

Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran Mesir, gadis itu tidak termasuk cantik, kata Sayyid. Tapi ada gelombang yang unik yang menyirat dari sorot matanya, katanya menjelaskan pesona sang kekasih. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan Sayyid; karena ia memimpikan seorang yang perawan fisiknya, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.

Sayyid Quthub tenggelam pada penderitaan yang panjang. Akhirnya ia memutuskan hubungannya. Tapi itu membuatnya semakin menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan itu. Ia bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman.

Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, relaisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka menambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah!

Begitu Sayyid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata, “Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” Setelah itu ia berlari meraih takdirnya; dipenjara 15 tahun, menulis Fi Dzilalil Qur’an, dan mati di tiang gantungan! Sendiri! Hanya sendiri!

PERANG DAN CINTA

Januari 11, 2009

(Oleh Anis Matta)

John Lennon adalah trauma. Lahir di tengah puing perang dunia pertama, kedua, dan perang Vietnam. Legenda pop tahun 60-an itu tiba-tiba menemukan bumi ini seperti sepenggal neraka. Maka lahirlah Flower Generation dengan semangat anti perang dan fenomena hyppies. Bahkan ketika Tuhan disebut dalam perang, Bob Dylan justru mengatakan: “If God in our side, He’ll stop the next war.”

Sejarah perang moderen adalah mimpi buruk terpanjang umat manusia. Api. Debu. Darah. Air mata. Terlalu mengerikan. Perang moderen jadi tragedi kemanusiaan karena ia lahir dari dendam, keserakahan, megalomania dan kesunyian.

Imperealisme Eropa ke timur adalah riwayat dendam dan keserakahan. Perang dunia pertama dan kedua adalah kisah keserakahan dan megalomania. Napoleon, Hitler dan Mussolini adalah legenda megalomania dan kesunyian: perang adalah cara mereka menyebar kemeranaan mereka. Sebab itu perang moderen adalah brutalisme, sadisme, kanibalisme: saat-saat panjang tanpa kasih, dari orang-orang yang menemukan kepuasan pada tetes-tetes darah dan air mata.

Tapi perang tidak hanya punya satu wajah. Perang punya wajah lain yang lebih agung, etis dan manusiawi. Perang adalah takdir manusia. Kamu suka atau tidak suka. Perang itu niscaya. Bedanya hanya dalam dua hal: siapa musuhmu, dan dengan cara apa kamu melawannya.
Siapa musuhmu menentukan atas nama apa kamu berperang. Caramu melawan menggambarkan watak perang yang kamu lakoni. Di dasar batinmu yang mendalam sebenarnya kamu tahu atas nama siapa kamu berperang: kebenaran atau kebatilan. Angkara murka yang lahir dari kebatilan niscaya melahirkan dendam, keserakahan, megalomania, sadisme, brutalisme dan kanibalisme. Habis itu kesunyian yang panjang: dan darah yang terus mengalir tanpa kasih.

Maka begitu Hitler menyadari kekalahannya, ia bunuh diri. Darahnya dan darah korban-korbannya sama saja: merah! Tapi Khalid justru menangis karena mati di atas kasur: bukan di medan laga! Tapi mengapa revolusi Chili jadi nyanyian Pablo Nerudo? Mengapa Khalid bin Walid mengatakan: “Berjaga pada sebuah malam dingin, di tengah deru peperangan, lebih aku suka daripada berada di sisi seorang gadis di malam pengantin.”? Mengapa Abu Bakar mengatakan: “Carilah kematian agar kamu menemukan kehidupan.”?

Jika kamu berperang di bawah bendera kebenaran, cinta mengendalikan motifmu dan caramu berperang. Tetap ada kekerasan. Darah. Tapi cinta membuatnya jadi agung. Etis. Manusiawi.
Perang–atau revolusi adalah drama kemanusiaan. Di sana kita menyabung nyawa, karena ada yang kita cintai di sini: Tuhan, hidup, tanah air, bangsa, keluarga, diri sendiri. Perang bukan kebencian. Maka mereka yang tidak terlibat dalam perang tidak boleh dijadikan korban: anak-anak, orang tua, wanita, tumbuhan, hewan dan lingkungan hidup.
Jika kebutuhan biologismu tersumbat selama perang, kamu bisa jadi sadis. Atau bahkan kanibalis. Maka, prajurit perang–dalam islam–harus kembali ke keluarganya setiap empat bulan: biar jihad jadi lebih dekat kepada cinta, tidak berubah jadi benci.

Perang semacam ini menciptakan kehidupan dari kematian. Hanya perang semacam ini yang dapat menghentikan perang dengan perang.

***

sumber: majalah Tarbawi

Dakwah Di Era Teknologi Informasi

E-Dakwah

  1. Abstraksi

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. An-Nahl : 125)

Barang siapa yang mengajak orang lain kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengerjakannya” (H.R. Muslim).

 

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal salih dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri” (H.R. Muslim).

 

Ada sebuah fenomena global dipenghujung abad 20 yang belakangan ini cukup banyak menarik perhatian para pemikir, ilmuwan, politikus, negarawan bahkan kalangan militer, dan fenomena ini seharusnya membuat kita bersyukur karena ia adalah Shahwah Islamiyah (kebangkitan islam).

Fenomena ini menarik bagi para pemikir dunia karena ia terjadi ketika sebuah peradaban yang kita sebut western civilization mulai kehilangan cahayanya dan bagaikan sedang tenggelam bersama senja, sedangkan peradaban Islam justru sedang memperlihatkan semangat dan vitalitas baru dibidang ideologi dan spiritualitas.

Fenomena ini menarik bagi para politikus, ekonom dan negarawan karena hal ini terjadi ketika dunia-dunia lain sudah merasa muak dan bosan dengan konsep demokrasi semu yang digembor-gemborkan oleh Amerika Serikat yang menyebut dirinya wakil yang aktual dari peradaban barat, sebuah konsep demokrasi bermuka dua dan memiliki standar ganda yang semuanya hanya untuk satu tujuan yaitu kepentingan Amerika dan sekutu-sekutunya yang termasuk didalamnya Zionis Israel. Sedangkan dalam waktu yang sama Islam sudah mulai menunjukkan peranannya dibidang politik, ekonomi dan kenegaraan. Turki yang sebelumnya mewakili sifat barat / eropa yang sekuler tapi sekarang pemerintahannya sudah dipegang oleh sebuah partai dengan pemimpinnya yang berafiliasi kepada keislaman yang baik dan moderat, serta merangkul semua pihak sehingga ketika partai ini naik perekonomian Turki pun ikut terdongkrak menjadi lebih baik dari sebelumnya. Walaupun sampai saat sekarang partai ini masih mendapat pertentangan kuat dari kaum sekuler dinegara tersebut. Contoh lain dari penerapan politik yang dilatar belakangai kekuatan Islam juga dapat kita lihat di Indonesia, dan insya Allah selanjutnya akan masuk ke wilayah kenegaraan dan perekonomian nasional.

Dan fenomena lain yang tidak kalah menariknya adalah mulai merebaknya kaum muda Islam yang menguasai keilmuan yang beragam, mereka tersebar diseluruh instansi-instansi pendidikan terbaik didunia, di perusahaan-perusahaan besar didunia sampai diparlemen pemerintahan diberbagai belahan dunia, dan mereka memiliki afiliasi keberagamaan yang baik, sehingga kelak ketika dunia Islam membutuhkan, maka jadilah mereka sebagai stock of iron sekaligus agent of change yang siap untuk digunakan.

Melihat berbagai macam fenomena diatas maka muncullah ide-ide baru bagaimana Islam mampu mengkomunikasikan, menyampaikan dan mentransfer nilai-nilai yang ada didalamnya kepada masyarakat dunia yang luas ini, sebuah masyarakat di sebuah era yang kita sebut era globalisasi dan informasi dimana batasan geografi, perbedaan kultur dan bahasa serta waktu sudah tidak lagi menjadi kendala. Sebuah diskursus yang saat ini menjadi tema-tema kontemporer yang banyak didiskusikan dibanyak tempat. Dari hal inilah banyak kita temukan harakah / gerakan yang mengatasnamakan kebangkitan Islam dengan tema dan konsep penyampaian dakwahnya yang berbeda-beda.

Secara global, semua fenomena dan peristiwa besar yang kini mewarnai dunia kita, pada akhirnya melukiskan dua stream utama peradaban yang saling berlawanan. Di dunia Islam sedang terjadi sebuah proses restrukturisasi, aktualisasi dan revitalisasi ideologi dan spiritualitas. Sementara itu, Barat telah memasuki fase mempertahankan establishment (kemapanan) peradabannya. Dari proses transformasi tersebut memang pada akhirnya tidak bisa dihindari akan adanya persinggungan-persinggungan baik dari sisi nilai-nilai politik, ekonomi, budaya, sosial, keilmuan sampai teknologi.

Sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim saat ini untuk mempersiapkan konsep Islam alternatif (al badailul Islamiyah) sebagai pengganti konsep-konsep sebelumnya yang telah gagal. Konsep yang dapat diimplementasikan secara real / nyata bukan hanya dari sisi syariat tapi juga pemikiran (shiyagah fikriyah), sistem politik (shiyagah manhajiyah), ekonomi, sosial, budaya, militer, hubungan dan relasi antar bangsa, pendidikan dan keilmuan sampai ke teknologi informasi.

Dalam kajian kali ini akan kita sorot persinggungan disisi pemanfaatan teknologi informasi secara khusus untuk penyebaran dakwah dan sekaligus bagian dari upaya kaum muslimin dalam menjawab dan mengkristalisasikan keyakinan bahwa Islam adalah jawaban dari permasalahan umat manusia saat ini.

 

  1. Pengantar dan Definisi

Kalau boleh kita ambil istilah dari Thomas L. Friedman dari bukunya yang berjudul The World is Flat maka dunia saat ini telah memasuki globalisasi versi 3.0 dimana dalam versi ini dunia sudah semakin sempit dan surut serta persaingan antar pemain didalamnya menjadi datar / selevel.

Dalam era globalisasi versi 3.0, saat ini yang menjadi peranan utama adalah adanya kekuatan para individu-individu untuk saling berkolaborasi dan bersaing secara global. Dan yang membuat datar dunia ini bukan lagi kekuatan tenaga kuda, mesin uap, dan hardware / perangkat keras tapi adalah software / perangkat lunak, segala macam software yang memiliki keterkaitan dan keterpaduan dengan pembuatan jaringan serat optik dan wireless global yang membuat setiap kita ini adalah tetangga. Setiap individu harus, bisa dan sanggup bertanya pada dirinya, dimana posisi diri kita dalam kompetisi persaingan global sekaligus kesempatan yang sedang terjadi didepan mata kita, dan juga bertanya bagaimana saya, dengan usaha sendiri, mampu berkolaborasi dan berkompetisi dengan yang lain?

Runtuhnya tembok Berlin pada 9 Nopember 1989 adalah tonggak mulainya demokratisasi dan tumbuhnya kreatifitas. Tidak hanya menjadi titik tolak sejarah bersatunya jerman timur dan barat, pengaruhnya runtuhnya tembok Berlin bahkan sampai ke India. Menteri Keuangan India pada saat itu yaitu Mannohan Singh mengambil inisiatif mulai membuka pintu ekonomi pada tahun 1991, melepaskan manajemen gaya sosialis yang hampir saja membangkrutkan India, meningkatkan cadangan devisa yang sebelumnya hanya $1 juta menjadi $118 miliar, dan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dari hanya 3% menjadi lebih dari 7%. Di Eropa sendiri runtuhnya tembok berlin juga membuka jalan terbentuknya Uni Eropa, ekspansi 15 negara menjadi 25 negara, dan munculnya mata uang bersama bernama Euro.

6 bulan setelah runtuhnya tembok berlin, Microsoft Windows 3.0 muncul dengan fitur yang lebih mudah digunakan. Meskipun tentu saja Bill Gates harus mengucapkan terima kasih kepada para pesaingnya yaitu Steve Jobs yang lebih dulu mempelopori komputer rumah bernama Apple II tahun 1977, juga IBM yang membuka standar Personal Computer (PC) sehingga bisa dikembangkan oleh siapapun di dunia seperti sekarang ini. Beberapa kreatifitas lain yang luput dicatat oleh Friedman adalah di tahun yang sama Linus Torvald membangun kernel Linux generasi pertama, yang tidak diduga oleh pembuatnya sendiri Linux menjadi sistem operasi modern dan saingan terbesar Microsoft di era kini.

World Wide Web (WWW) atau kemudian disebut Web mengubah Internet menjadi dunia maya ajaib. Dengan Web orang bisa menempatkan karya digitalnya untuk diakses siapapun, memanggil dokumen yang tersimpan di server dan menayangkannya di layar komputer dengan cara yang sangat mudah. Tim Berners-Lee sang pencipta WWW telah ikut serta dalam proses mendatarkan dunia. Dalam thesis PhDnya Tim Berners-Lee meneruskan pekerjaan Vint Cerf dan Bob Kahn yang lebih dulu mengembangkan Internet. Web adalah ruang informasi maya, kalau di Internet banyak komputer, maka di Web ada banyak dokumen, suara, video, dan berbagai informasi lain. Tidak salah kalau majalah Times edisi 14 Juni 1999 menempatkan Tim Berners-Lee sebagai salah satu dari 100 orang yang paling berpengaruh di abad ke-20. Tim Berners-Lee berjuang untuk tetap membuat WWW terbuka, tanpa hak milik dan gratis. Dia juga yang mempopulerkan kode hypertext yang mudah dipelajari (HTML), merancang skema pemberian alamat (URL), mendesain aturan-aturan di Web yang kemudian menjadi HTTP (Hyper Text Transfer Protocol). Dan saat ini dunia Web telah memasuki generasi kedua yang sering disebut dengan Web 2.0, dimana dalam generasi ini sebuah halaman web diinternet tidak lagi statis dengan penampilan dan layout yang kaku, tapi sekarang sudah bisa menampilkan tampilan multimedia secara dinamis dan bersifat user oriented, standarizable dan accessible.

Berkembangnya teknologi informasi dan telekomunikasi memang tak dapat dibendung lagi, dihampir seluruh sektor baik industri, pemerintahan, militer, akademisi sampai ke rumah tangga kita, semuanya memanfaatkannya. Sehingga kebutuhan kita akan TI sudah tak terbayangkan lagi.

Bill Gates yang seorang pendiri perusahaan software terbesar didunia yaitu Microsoft dalam kunjungannya ke Indonesia belum lama lalu mengatakan bahwa dunia akan memasuki era baru dalam teknologi digital, dia menyebutnya “Second Digital Decade”, dimana dalam dekade ini nanti, teknologi digital akan berada disetiap kamar disetiap rumah diseluruh negara, dari mulai layar sampai ke proyektor dinding dan bahkan sudah terintegrasi dengan meja diruang tamu. Nanti seluruh peralatan digital tersebut akan lebih mudah digunakan, karena akan menggunakan suara dan gerakan tubuh dibandingkan harus menggunakan mouse atau keyboard lagi. Salah satu fokus utama dalam dekade tersebut adalah menghubungkan manusia melalui internet dan seluruh aplikasi perangkat lunak dan keras nanti akan terhubung ke Internet.

Dalam dunia telekomunikasi pun sama, saat ini sedang dirancang sebuah protokol / standar telekomunikasi baru yang disebut LTE (Long Term Evolution) dimana jalur data komunikasi semakin cepat, lebih luas cakupannya, lebih besar kapasitasnya dan lebih reliable. Dengan teknologi LTE ini maka semakin mendukung terciptanya sebuah dunia tanpa batas, dimana orang yang berbeda negara saling terhubung menggunakan internet dan bisa berkomunikasi secara audio visual tanpa ada halangan dan delay yang berarti.

Mengetahui hal ini semua, umat Islam sudah seharusnya memperbaharui tema-tema dakwahnya sekaligus cara berdakwahnya. Metode-metode klasik dalam berdakwah memang tidak perlu kita hilangkan namun alangkah baiknya kita kembangkan. Disaat umat lain telah berupaya menyebarkan ajaran dan pandangannya menggunakan iklan-iklan di televisi, di komunitas maya menggunakan email, mailing list, forum diskusi sampai ke internet messenger, apakah kita akan diam saja dan hanya menjadi pengagum dan penonton mereka ?

Dakwah dalam Islam berarti mengajak seseorang atau kelompok dari tidak tahu Islam menjadi tahu, dari yang anti Islam menjadi pendukung Islam, dari yang bukan muslim menjadi seorang muslim. Dan cara kita berdakwah juga telah diajarkan yaitu menggunakan hikmah dan kata-kata yang baik, sedangkan tekniknya kita sesuaikan. Dengan mengambil konsep dakwah yang telah digariskan Rasulullah sekaligus nilai-nilai positif dari perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi maka dari sinilah tercetus kata-kata e-dakwah.

E-dakwah memiliki konsep dan hubungan yang tidak jauh dengan kata-kata e-mail, e-learning, e-government, e-commerce dan sejenisnya. Kalau email adalah metoda simpan dan teruskan dari pembuatan, pengiriman, penerimaan dan penyimpanan pesan menggunakan sistem komunikasi elektronik jaringan atau internet (wikipedia). E-government adalah penggunakan teknologi internet sebagai sebuah landasan dalam pertukaran data, penyediaan layanan dan transaksi kepada warga negara, pebisnis atau tangan pemerintah yang lain (wikipedia). Dan hampir e-e yang lainnya pun tidak beda jauh, yaitu mereka menggunakan media internet sebagai infrastrukturnya. E disini bisa berarti melibatkan cara, range / jarak / geografical position, sebuah system atau proses dan infrastruktur. Maka e-dakwah pun kurang lebih adalah proses pengajaran, pembelajaran, penyampaian sesuatu informasi / pesan berkaitan dengan dunia Islam dengan harapan orang yang diberikan informasi tersebut menjadi tertarik bahkan bisa bergabung kedalam barisan kaum muslimin. Oleh karena itu informasi yang akan disampaikan dalam e-dakwah ini harus bersifat valid, terpercaya, bukan sebuah fitnah, bersifat konstruktif, membuka dan memperdalam wawasan, terbuka untuk didiskusikan dan tidak mengandung unsur-unsur lain yang dapat merusak makna dakwah itu sendiri.

E-dakwah ini sendiri akan terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu, teknologi dan pengetahuan manusia, seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan dakwah Islam kepada manusia, seiring dengan pertumbuhan manusia itu yang semakin meningkat, seiring dengan pertumbuhan Islam itu sendiri.

  1. Urgensi

Umat Islam saat ini dihadapi oleh berbagai permasalahan yang kalau kita kelompokkan dalam kelompok besar itu ada 2 masalah utama, pertama yaitu yang berkaitan dengan kapasitas intelektual dan yang kedua karena permasalah moral.

Permasalahan tersebut pada akhirnya menimbulkan banyak tantangan-tantangan baru dalam dunia Islam. Tantangan yang seiring perkembangan zaman semakin bervariatif dan berbeda, sehingga membutuhkan segera solusi yang tepat dalam menjawab semua tantangan tersebut.

Namun demikian permasalahan-permasalahan tersebut tetap harus dianalisa, diidentifikasi dan dicarikan alternatif pemecahan solusinya secara rasional, relevan dan strategis melalui pendekatan-pendekatan dakwah yang sistematis dan profesional.

Coba kita kaji beberapa tantangan dakwah dibawah ini :

Dalam beberapa riset yang telah dilakukan, diketahui bahwa :

  • Setiap detik, 3075,64 USD dibelanjakan untuk pornografi

  • Setiap detik, 28258 pengguna internet melihat situs pornografi

  • Setiap detik, 372 pengguna internet mengetikkan kata kunci yang berhubungan dengan pornografi di mesin pencari

  • Jumlah halaman situs pornografi di dunia saat ini mencapai 420 juta

Cukup menarik apa yang ditulis oleh Dr. Robert Weiss dari Sexual Recovery Institute di Washington Times tahun 2000. Weiss menyatakan bahwa:

Sex adalah topik no #1 yang dicari di Internet

Studi lain yang dilakukan oleh MSNBC/Standford/Duquesne menyatakan:

60% kunjungan internet adalah menuju ke situs sex (porno)

Data ini disempurnakan oleh publikasi dari The Kaiser Family Foundation yang menyatakan bahwa:

 70% kunjungan pengguna Internet belasan tahun adalah menuju ke situs pornografi

Beberapa data lain dari TopTenReviews.Com yang berhubungan dengan situs pornografi diantaranya adalah:

  • Pencarian harian situs pornografi: 68 juta (25% dari total pencarian)

  • Jumlah email pornografi perhari: 2.5 miliar (8% dari total email)

  • Prosentase pengguna internet yang melihat pornografi: 42.7%

  • Jumlah download bulanan konten pornografi: 1.5 miliar (35% dari total download)

Total pendapatan pertahun industri pornografi di dunia adalah sekitar 97 miliar USD, ini setara dengan total pendapatan perusahaan besar di Amerika yaitu: Microsoft, Google, Amazon, eBay, Yahoo!, Apple, Netflix and EarthLink. Ini menunjukkan betapa dahsyatnya industri pornografi di dunia. Sedikit berkaitan ini, salah satu tulisan di CNET tahun 1999 menyebutkan bahwa:

 Pornografi online adalah produk ecommerce yang secara konsisten menduduki peringkat pertama dalam bisnis di Internet

Dari berbagai data tentang pornografi Internet diatas, yang cukup menggemaskan, ternyata penikmat dan penerima ekses negatif dari industri pornografi di Internet bukan negara-negara produsen, tapi justru negara-negara kecil dan berkembang. Kita bisa lihat dari tren request pencarian dengan tiga kata kunci, yaitu xxx, porn dan sex, semuanya dikuasai oleh negara kecil atau berkembang seperti Pakistan, Afrika Selatan, India, Bolivia, Turki, dan juga Indonesia.

Dalam bidang ekonomi misalnya, tahukah anda bahwa ketika terjadi krisis ekonomi di negara-negara dunia khususnya Asia dan lebih khusus lagi Indonesia ditahun 1998, itu semua disebabkan oleh permainan angka-angka digital yang dilakukan anak-anak muda yang belum genap berumur 40 tahun dan semua itu dilakukan menggunakan komputer yang terhubung kejaringan internet.

Dalam bidang militer, tahukah anda bahwa ketika pesawat-pesawat amerika melakukan pengeboman diwilayah-wilayah umat Islam contohnya di Iraq tahun 2004 lalu, mereka menggunakan pesawat mata-mata (Predator Drone) tanpa awak yang terbang mengelilingi wilayah udara iraq dan akan memberitahukan posisi pejuang gerilyawan iraq kepada markas pusat untuk diserang, pesawat tersebut dikontrol oleh pusat pengendali kontrolnya yang berada nun jauh dari negeri Iraq tersebut yaitu di Nevada, Las Vegas. Mantab bukan, kita bisa mengacak-ngacak sebuah negara tanpa perlu harus berada dalam negara tersebut, semata-mata menggunakan teknologi jaringan wireless via satelit.

Bagaimana menurut anda tentang segelintir masalah diatas, bagaimana solusinya ? Apakah Islam bisa menjadi solusi terhadap masalah diatas ?

Kita butuh sebuah solusi yang tepat, strategis, relevan, bersifat massive dan global. Dan e-dakwah menjadi salah satu alternatif solusinya.

Website misalnya bisa menjadi sumber informasi yang benar tentang Islam. Semakin menjamurnya website-website yang berasal dari organisasi-organisasi Islam seluruh dunia akan semakin menambah daya jangkau dan daya sebar informasi tentang Islam. Namun untuk Indonesia sepertinya baru sebagian ormas Islam atau partai Islam yang memanfaatkan hal ini, dari perhitungan yang dilakukan belum lama ini tercatat hanya 3 partai Islam yang memanfaatkan website sebagai media dakwahnya, dan yang terbilang cukup profesional dan aktif dalam pengelolaannya hanya satu yaitu partai keadilan sejahtera dengan jumlah website lebih dari 30 dan tersebut di lebih dari 9 negara.

Untuk yang bersifat independen, kita bisa memanfaatkan media sejenis website yang lebih terkenal dengan blog. Blog ini berisikan informasi yang bersifat independen alias bebas dan tidak terikat. Semua bergantung dari yang punya blog tersebut mau diisi apa saja. Terkadang blog lebih efektif dibandingkan situs media atau website pada umumnya, karena penyampaian berita dan informasi dalam blog yang memang bersifat lugas dan apa adanya serta dibantu dengan besarnya komunitas hal ini mendorong untuk lebih cepat tersampaikannya informasi dan berita. Alhamdulillah, Indonesia ternyata tidak ketinggalan dalam masalah blog dan komunitasnya dibandingkan negara lain, tercatat untuk komunitas blog muslim di Indonesia yang terkenal diantaranya muslimblog dan forum lingkar pena. Kedua-duanya menghasilkan banyak blogger-blogger terkenal dan blog yang berkualitas.

Mailing list adalah sebuah forum diskusi yang bisa bersifat tertutup maupun terbuka melalui perantara email. Dengan mailing list, seseorang bisa berdiskusi secara bebas dan menyampaikan aspirasinya yang nantinya akan dibaca oleh seluruh member yang terdaftar dalam milis / komunitas tersebut yang bisa saja beda suku, ras agama dan negara, sehingga bisa memungkinkan berdakwah didalamnya. Terkadang karena perbedaan tersebut sangat beragam, sering terjadi perdebatan sengit didalam sebuah milis.

Situs jaring sosial / social community network adalah sebuah website yang saling menghubungkan membernya menggunakan link / hubungan. Sehingga nantinya tercipta jaringan persahabatan yang bisa saja berdasarkan almamater sekolah, tempat bekerja, hobi, negara, agama, kesamaan minat dan bakat dan seterusnya. Dari sinipun sebenarnya bisa memungkinkan memulai proses dakwah kepada orang lain yang sebelumnya tidak pernah kita kenal sama sekali. Contoh dari website seperti ini yang terkenal adalah friendster, facebook, linked-in, multiply, hi5 dan seterusnya.

Internet Messenger juga bisa menjadi ladang dakwah kita, dengan messenger ini kita bisa menginformasikan informasi yang berguna kepada orang lain secara realtime. Contohnya kita bisa mengingatkan sholat kepada teman kita yang berada ditempat lain misalnya, atau menyampaikan informasi pengajian atau apapun yang bermanfaat. Apalagi bila digabungkan dengan teknologi VoIP, yaitu penyampaian audio melalui internet. Maka kita bisa berbicara langsung dengan objek dakwah yang kita tuju secara realtime. Ditambah lagi dengan teleconference yang bisa menampilkan objeck dakwah kita secara audio visual, maka kita sudah seperti berada didepan objek dakwah tersebut dan kita bisa saling berdiskusi bersama membahas masalah sesuatu dan mengambil manfaatnya. Contohnya yang paling sering melakukan teleconference untuk dakwah adalah radiotarbiyah.net yang berbasis di gedung cyber jakarta tapi memiliki terminal relay di negara-negara lain seperti jepang, jerman, belanda dan australia. Bahkan sholat jum’at pun bisa dilakukan teleconference dengan teknologi saat ini. Betapa bermanfaatnya bukan.

Hackers, yup terkadang hacker pun berguna dalam menyampaikan informasi dakwah, walaupun ada beberapa yang tidak disarankan untuk dilakukan dan beresiko tinggi. Contoh dari pendayagunaan hackers adalah ketika dunia Islam sedang terkena fitnah besar dan mengalami ketidakadilan, maka kadang kita butuh hackers untuk menyampaikan pesan dan protes kita kepada dunia, karena hackers memiliki kemampuan untuk melewati keterbatasan akses yang tidak dimiliki pengguna komputer dan internet biasa, atau ketika sebuah situs Islam hendak diluncurkan online, maka kita butuh hackers untuk melakukan uji coba kelayakan website kita agar website kita nanti tidak mudah untuk dirusak dan diacak-acak oleh hackers lain. Contoh lain adalah dalam bidang gaming entertainment, beberapa saat yang lalu saya ketemukan hackers yang mengambil manfaat positif dari hackers lain ketika hackers tersebut telah berhasil membuat sebuah program penampil Al Qur’an kedalam sebuah Playstation Portable. Hal ini cukup membuat terobosan karena dengan ini berarti bahwa Handheld game sekalipun bisa menjadi sarana dakwah untuk orang lain.

Pembuatan software untuk kepentingan umat, misalnya software pencatat zakat (LAZ) yang saat ini sedang banyak dikembangkan (salah satunya oleh MIFTA), software untuk penghitung waris dan zakat maal, software untuk pengelolan / manajemen pesantren / mushola / perpustakaan dan lainnya. Dengan adanya software-software semacam ini maka diharapkan proses yang tadinya menggunakan tenaga manual menjadi bisa lebih terotomatisasi dan terkomputerisasi sehingga outputnya bisa lebih cepat, lebih padat dan lebih akurat.

Dengan menggunakan cara-cara diatas misalnya, maka kita sedikit membuka persaingan penyebaran informasi kepada pihak lain sehingga minimal ada balance antara mereka yang berusaha menyebarkan kerusakan dan fitnah dengan mereka yang ingin melakukan perbaikan dan dakwah. Mengenai masalah efektivitasnya maka semua kembali ke inti permasalahan, niat dan kemauan serta keikhlasan kita. Setidaknya kita telah berusaha maksimal dalam memanfaatkan fasilitas untuk kebaikan.

Wallahu’alam bisshowab.

Referensi :

  1. The World is Flat – Thomas L. Friedman
  2. Arsitek Peradaban – M. Anis Matta
  3. http://romisatriawahono.net/
  4. http://saifulmmuttaqin.blogspot.com/
  5. http://kaisaranatta.blogs.friendster.com/my_blog/
  6. http://en.wikipedia.org/wiki/Electronic_learning



$

AMRADHUD DA’WAH

AMRADHUD DA’WAH
Ust. M Ihsan Arlansyah Tanjung

Amradhud Da’wah merupakan materi yang membahas tentang
penyakit-penyakit dalam da’wah. Amradhud Da’wah terbagi menjadi 2
kelompok yaitu:

1. Penyakit-penyakit da’wah terkait dengan ma’nawiyah (moral)

Amradhud Da’wah kelompok ini terdiri dari:

a. Munculnya da’wah-da’wah yang bersifat infi’aliyah (reaktif )
Da’wah ini hanya memberikan reaksi karena aksi pihak lain. Da’wah ini
adalah da’wah yang tidak menyentuh substansi permasalahan karena ia
akan bergarak setelah ada aksi pihak lain yang tidak memiliki program
tersendiri.

b. Da’wah yang munculnya Al Wujahiyah (adanya figuritas)
Da’wah ini hanya mengharapkan hadir tidaknya seorang figur dan da’wah
seperti ini tidak akan langgeng. Dalam Hadistnya Rasulullah berwasiat
ketika haji wada’ ” Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara
yang dengannya kalian tidak akan sesat jika memeganggang teguh
keduanya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah” , ini berarti Rasulullah
mendidik untuk berorientasi kepada program bukan kepada figur. Da’wah
seperti ini banyak menimbulkan masalah karena jika figur dalam
organisasi da’wah tersebut menghilang maka tercerai belahlah da’wah itu.

c. Da’wah yang bersifat Al `itijaziyah
Da’wah ini bersifat bahwa hanya kelompok da’wahnyalah yang terbaik
sehingga para anggota kelompok da’wah tersebut merasa ujub (paling
hebat) dan mengakibatkan tidak dapat melihat kekurangan atau kelemahan
dirinya. Da’wah ini juga menyebabkan anggotanya menjadi ghurur (terlena).

d. Da’wah yang bersifat Al intiqasiyah
Da’wah yang selalu mengecilkan pihak lain sehingga
organisasi-organisasi da’wah yang lain tidak dianggap mitra da’wahnya
. Penyakit da’wah seperti ini biasanya seiring dengan sifat da’wah Al
`Itijaziyah.

2. Penyakit-penyakit da’wah yang terkait dengan amaliyah (operasional)

Amradhud da’wah yang terkait dengan amaliyah terdiri dari :

a. Da’wah yang juz’iyah (bersifat lokal)
Da’wah ini hanya bersifat sektoralisme yang seharusnya sumuliyah
(segala aspek).

b. Da’wah yang At Ta’lidiyah
Da’wah ini membuat para anggotanya hanya mengikuti sesuatu tanpa
memahami. Dalam kelompok da’wah harus dilakukan secara bashiroh
(hujjah yang nyata) sebagaimana dalam Qs.12 : 108. Imam Hasan Al Bana
menekankan dalam merumuskan pilar-pilar komitmen pada da’wah Islamiyah
adanya 10 rukun bai’at pada rukun yang pertamanya dan utama adalah
rukun Al Fahmu.

c. Da’wah yang Al Afwaiyah atau Al Irtijaliyah
Da’wah yang tidak mempunyai kejelasan, tidak ada sasaran dan
perencanaan sehingga tidak ada yang dapat dievaluasi. Setiap anggota
da’wah harus mempunyai wawasan kedepan sesuai dengan Qs. 59 : 18.

d. Da’wah yang At Tarki’iyah
Da’wah yang tambal sulam yang seharusnya da’wah inqilabiyah yaitu
menginginkan perubahan yang total. Ungkapan Sayyid Qutb “Bagaiman
mungkin dunia yang sekarang tengelam dalam kejahiliyahan kemudian
sekali-sekali meminta Islam memberikan solusi kepada permasalahannya.
Semestinya Jalankan dahulu Islam secara menyeluruh baru menanyakan
masih adakah masalah yang dapat diselesaikan oleh Islam”. Da’wah ini
harus menjelaskan kepada seluruh manusia ketika jalan hidup yang
ditempuh bukan jalan Allah sesungguhnya jalan tersebut adalah jalan
yang bathil yang harus ingkari. Dan mengajak umat manusia khususnya
umat Islam kepada Islam yang menyeluruh.

Sebagai solusi terhadap penyakit-penyakit da’wah baik dalam ma’nawiyah
atau amaliyah adalah dengan jalan membentuk Hizbullah yaitu suatu
tandzim (organisasi) dimana seluruh umat Islam masuk kedalam tandzim
tersebut. Dizaman yang tidak tegak khilafah Islam sekatrang ini maka
tidak dapat mengharapkan tandzim yang dapat menghimpun seluruh umat
Islam. Sejak runtuhnya khilafah Islam terakhir yaitu Daulah Usmani di
Turki pada tahun 1924 Sekarang ini munculnya Jama’atul-Jama’atul minal
Muslimin, seperti berdirinya Ikhwanul Muslimin di Mesir dengan
pendirinya Imam Hasan Al Bana, Hizbut Tahrir di Yordania, Jama’ah
Tabligh di Pakistan, Salaffi di Saudi Arabiyah dll. Ini merupakan
usaha untuk memberikan suatu penawaran kepada umat Islam pentingnya
ada hizbullah untuk menghimpun umat Islam yang penataannya mendunia
yang sifatnya tunggal dengan kepemimpinan yang mempersatukan umat
Islam yang disebut jama’atul Muslimin.Sekarang ini belum ada Jama’ah
Muslimin tetapi sudah terbentuk jama’ah minal Muslimin dan diharapkan
jama’ah-jama’ah minal Muslimin saling fastabikul khairat dan saling
bekerja sama.

Pertanyaan:
1. Bagaimana solusi mencari figuritas dizaman sekarang ini yang dapat
dijadikan tauladan selain Rasullah?
2. Bagaimana merasa kalau kelemahan umat Islam karena dirinya?

Jawaban :
1. Pada Qs. 33 : 21 menjelaskan bahwa pada diri Rasulullah terdapat
suri tauladan yang terbaik, ini berarti hanya Rasulullah yang patut
dijadikan tauladan yang tidak mempunyai sisi kelemahan sedangkan
dizaman sekarang ini jika ditemukan figur yang dijadikan tauladan
pasti akan ditemukan ketidak sempurnaan. Sekarang ini tidak dapat
diharapkan individual leader tetapi yang harus ada adalah kolektif
leadership yang terdiri dari beberapa sosok yang saling mengisi.
Seperti yang dikatakan oleh Imam Hasan Al Bana Sesungguhnya
sebaik-baiknya Qiyadah (pemimpin) adalah jika dalam hal istifadah
ilmiah (pemanfaatan keilmuannya) dia seorang ustad, dalam hal ribatil
qulb (keterikatan hatinya) dia seorang ayah, dalam hal tarbiyah
ruhiyah dia seorang syekh dan dalam hal siasia da’wah dia seorang
panglima.
2. Sikap seperti itu baik karena jangan dibiasakan ketika terdapat
permalahan mencari kambing hitam tetapi sebaiknya nmenyalahkan lebih
dahulu. Tetapi ada sisi kelemahannya kalau sikap ini terlalu dominan
akan menyebabkan rendah diri sampai akhirnya tidak akan melakukan
da’wah lagi. Sikap ini akan terpuji jika memacunya untuk memaksimalkan
kerjanya dengan keterbatasan dirinya.

Pertanyaan :
Apa tanggapan ustad dengan masyarakat sekarang ini yang tidak dapat
membedakan antara budaya hidup modern dan western sedang mereka banyak
terperangkap dengan pengaruh buruk dari budaya western?

Jawaban :
Hal ini banyak terjadi pada kaum muslimin khususnya bagi mereka yang
sempat merasakan pendidikan di barat (luar negeri) dan sebelum pergi
ke barat mereka belum mempunyai kepribadian Islam yang matang sehingga
belum kebal terhadap budaya hidup di barat, terlebih lagi terleena dan
terpesona dengan kemajuan di negeri barat dan bahayanya lagi setelah
pulang menganggap Islam tidak dapat memberi kontribusi apa-apa. Muslim
harus bersikap seperti yang disabdakan Rasulullah ” Hikmah adalah
barang mutiara milik muslim” jadi dimanapun ditemukan seorang
muslimlah yang paling berhak memanfaatkannya.

Pertanyaan:
Darimana umat Islam memulai untuk memperbaiki kelemahan-kelemahannya?
Jawaban:
Dari munculnya Hizbullah dari suatu barisan umat Islam yang telah
dihasilkan dari proses kaderisasi yang kader-kadernya mempunyai
beragam potensi dan kafaah (keahlian) masing-masing dan merekan
diberikan peluang seluas-luasnya untuk mengekspresikannya sehingga
akan muncul proses proyeksi, promosi dan nominasi kepemimpinan yang
akan datang. Dan proses itulah yang dilakukan Rasulullah saw ketika
mulai menggagaskan penataan barisan umat Islam sejak di Mekkah.
Kongkrotnya dilakukan dengan small islamic inpirement harus membentuk
kelompok-kelompok kecil, lingkungan pergaulan kaum muslimin yang
berada didalam suatu proses kaderisasi tarbiyah yang dibimbing oleh
seorang murabbi (pembina) yang mengoptimalkan potensi dan kafaah
binaannya.

Pertanyaan :
Apakah ada cara terbaik untuk menyelesaikan permasalahan umat Islam
secara keseluruhan?
Jawaban :
Gerakan da’wah menjadi inti perubahan umat maka aktivis da’wah harus
memperbaiki diri sendiri dahulu baru da’wah kepada orang lain.
Sekarang ini proyek Islam yang harus ditekankan pada kegiatan da’wah
dan tarbiyah. Da’wah dalam konteks yang umum mengajak orang yang tidak
faham Islam untuk mengenali Islam sedangkan tarbiyah untuk mengajak
orang yang sudah kenal Islam agar berubah menjadi kader-kader inti
dalam da’wah.

Bila Cinta Tak Berbalas

“Maaf Akhi, bukannya saya tidak menghormati permintaan akhi. Tapi
rasanya kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan
semoga akhi menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya.

Amboi, bagaimana rasanya bila kalimat di atas dialami oleh para
ikhwan? Bisa saja langit terasa runtuh, hati berkeping-keping. Sang
pujaan hati yang kita harapkan menjadi teman setia dalam mengarungi
perjalanan hidup menampik khitbah kita. Segala asa yang pernah coba
ditambatkan akhirnya karam. Cinta suci sang ikhwan bertepuk sebelah
tangan.

Ya drama kehidupan menuju mahligai pelaminan memang beragam. Ada yang
menjalaninya dengan smooth, amat mulus, tapi ada yang berliku penuh
onak duri, bahkan ada yang pupus ditengah perjalanan karena cintanya
tak bertaut dalam maghligai pernikahan.

Ini bukan saja dialami oleh para ikhwan, kaum akhwat pun bisa
mengalaminya. Bedanya, para ikhwan mengalami secara langsung karena
posisi mereka sebagai subyek/pelaku aktif dalam proses melamar.
Sehingga getirnya kegagalan cinta -seandainya memang terasa getir-
langsung terasa. Sedangkan kaum akhwat perasaanya lebih aman
tersembunyi karena mereka umumnya berposisi pasif, menunggu pinangan.
Tapi manakala sang ikhwan yang didamba memilih berlabuh dihati yang
lain kekecewaan juga merebak dihati mereka.

Mengambil sikap

Ikhwan dan akhwat rahimakumullah, siapapun berhak kecewa manakala
keinginan dan cita-citanya tidak tercapai. Perasaan kecewa adalah
bagian dari gharizatul baqa (naluri mempertahankan diri) yang Allah
ciptakan pada manusia. Dengannya, manusia adalah manusia, bukan
onggokan daging dan tulang belulang. Ia juga bukan robot yang bergerak
tanpa perasaan, tapi manusia memiliki aneka emosi jiwa. Ia bisa
bergembira tapi juga bisa kecewa.

Emosi negatif, seperti perasaan kecewa akibat tertolak, bukannya tanpa
hikmah. Kesedihan akan memperhalus perasaan manusia, bahkan akan
meningkatkan kepekaannya pada sesama. Bila dikelola dengan baik maka
akan semakin matanglah emosi yang terbentuk. Tidak meledak-ledak lalu
lenyap seketika. Ia akan siap untuk kesempatan berikutnya; kecewa
ataupun bergembira. Jadi mengapa tidak bersyukur manakala kita
ternyata bisa kecewa? Karena berarti kita adalah manusia seutuhnya.

Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru awal dari
segala-galanya. Meski terdengar klise tapi ada benarnya; ambillah
pelajaran dari sebuah kegagalan lalu buatlah perbaikan diri. Tentu
saja itu dengan tetap mengimani qadla Allah SWT.

Agar kegagalan mengkhitbah tidak menjadi petaka, maka ikhwan dan
akhwat, persiapkanlah diri sebaik-baiknya, ada beberapa langkah yang
bisa diambil:

Percayai qadla
Manusia tidak suka dengan penolakan. Ia ingin semua
keinginannya selalu terpenuhi. Padahal ditolak adalah salah satu
bagian dari kehidupan kita. Kata seorang kawan, hidup itu adakaanya
tidak bisa memilih. Perkataan itu benar adanya, cobalah kita
renungkan, kita lahir kedunia ini tanpa ada pilihan; terlahir sebagai
seorang pria atau wanita, berkulit coklat atau putih, berbeda suku
bangsa, dan sebagainya. Demikian pula rezeki dan jodoh adalah hal yang
berada di luar pilihan kita. Man propose, god dispose. Kita hanya bisa
menduga dan berikhtiar, tapi Allah jua yang menentukan.
“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan
penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari kemudian menjadi
alaqah kemudian menjadi janin, lalu Allah mengutus malaikat dan
diperintahkannya dengan empat kata dan dikatakan padanya: tulislah
amalnya, rizkinya dan ajalnya. (HR.Bukhari).
Maka kokohkanlah keimanan saat momen itu terjadi pada
kita. Yakinilah skenario Allah tengah berlangsung, dan jadilah
penyimak yang baik dengan penuh sangka yang baik padaNya. Tanamkan
dalam diri kita Allah Mahatahu yang terbaik bagi hamba-hambaNya
Jangan biarkan kekecewaan menggerogoti keimanan kita
kepadaNya. Apalagi dengan terus menanamkan prasangka buruk padaNya.
Segerahlah sadar bahwa ini adalah ujian dari Allah. Akankah kita
menerima qadla-Nya atau merutuknya?
Dengan demikian, fragmen yang pahit dalam kehidupan
InsyaAllah akan memperkuat keyakinan kita bahwa Allah sayang pada
kita. Demikian sayangnya, sampai-sampai Allah tidak rela menjodohkan
kita dengan si fulan yang kita sangka sebagai pelabuhan cinta kita.

Bersiap untuk cinta dan bahagia
“Seandainya ukhti menjadi istri saya, saya berjanji akan
membahagiakan ukhti,” demikian ungkapan keinginan para ikhwan terhadap
akhwat yang akan mereka lamar. Puluhan, mungkin ratusan angan-angan
kita siapkan seandainya si dia menerima pinangan cinta kita. Kita
begitu siap untuk berbahagia dan membahagiakan orang lain. Sama
seperti banyak orang yang ingin menjadi kaya, tenar dan dipuja banyak
orang.
Sayang, banyak diantara kita yang belum siap untuk merasa
kecewa. Dan ketika impian itu berakhir kita seperti terhempas. Tidak
percaya bahwa itu bisa terjadi, ada akhwat yang berani menolak
pinangan kita. Bila kurang waras, mungkin akan keluar ucapan,
“berani-beraninya…” atau “apa yang kurang dari saya…..”
Akhi dan ukhti, jangan biarkan angan-angan membuai kita
dan membuat diri menjadi tulul amal, panjang angan-angan. Sadarilah
semakin tinggi angan membuai kita, semakin sakit manakala tak tergapai
dan terjatuh. Ambillah sikap simbang setiap saat; bersiap diri menjadi
senang sekaligus kecewa. Sikap itu akan menjadi buffer penyangga
mental kita, apapun yang terjadi kelak.
Manakala kenyataan pahit yang ada di depan mata, sang
akhwat menolak khitbah kita atau sang ikhwan memilih bunga yang lain,
hati ini tidak akan tercabik. Yang akan datang adalah keikhlasan dan
sikap lapang dada. Demikian pula saat ia menjatuhkan pilihannya pada
kita, hati ini akan bersyukur padaNya karena doa terkabul, keinginan
menjadi kenyataan.
“Menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya
urusannya seluruhnya baik dan tidaklah hal itu dimiliki oleh seseorang
kecuali bagi seorang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur maka
hal itu baik baginya, dan jika menderita kesusahan ia bersabar maka
hal itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim).

Bukan Aib
Ditolak? Emang enak! Wah, mungkin demikian pikiran
sebagian ikhwan. Malu, kesal dan kecewa menjadi satu. Tapi itulah
bentuk perjuangan menuju pernikahan. Kita tidak akan pernah tahu
apakah sang pujaan menerima atau menolak kita, kecuali setelah
mengajukan pinangan padanya. Manakala ditolak tidak usah malu, bukan
cuma kita yang pernah ditolak, banyak ikhwan yang senasib dan
sependeritaan.
Saatnya berjiwa besar ketika ditolak. Tidak perlu merasa
terhina. Demikian pula saat banyak orang tahu hal itu. Bukankah apa
yang kita lakukan adalah sesuatu yang benar? Mengapa mesti malu.

Kita mungkin takkan Bahagia
Marah-marah karena lamaran tertolak? Mendoakan keburukan
pada ikhwan/akhwat yang tidak mencintai kita? Itu bukan sikap seorang
muslim/muslimah yang baik. Tidak ada yang bisa melarang seseorang
untuk jatuh cinta maupun menolak cinta. Sebagaimana kita punya hak
untuk mencintai dan melamar orang, maka ada pula hak yang diberikan
agama pada orang lain untuk menolak pinangan kita. Bahkan dalam
kehidupan rumah tangga pun seorang suami dan istri diberikan hak oleh
Allah SWT. Untuk membatalkan sebuah ikatan pernikahan.
Mengapa ada hak penolakan cinta yang diberikan Allah pada
kita? Bahkan dalam pernikahan ada pintu keluar perceraian. Jawabannya
adalah sangat mungkin manusia yang jatuh cinta atau setelah membangun
rumah tangga, ternyata tak kunjung memperoleh kebahagiaan (al hanaah)
dari pasangannya, maka tiada guna mempertahankan sebuah bahtera rumah
tangga bila kebahagiaan dan ketentraman tak dapat diraih. Wallahu
aflam bi ash shawab.
“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh
rujuk lagi dengan cara yang mafruf atau menceraikan dengan cara yang
baik.” (QS. Al-Baqarah [2] : 229).
Berpikir positiflah manakala cinta tak berbalas. Belum tentu kita
memperoleh kebahagiaan bila hidup bersamanya. Apa yang kita pandang
baik secara kasat mata, belum tentu berbuah kebaikan di kemudian hari.
Adakalanya keinginan untuk hidup bersama orang yang kita
idamkan begitu menggoda. Tapi bila ternyata cinta kita bertepuk
sebelah tangan, untuk apa semua kita pikirkan lagi? Allah Maha
Pangatur, ia pasti akan mempertemukan kita dengan orang yang
memberikan kebahagiaan seperti yang kita angankan. Bahkan mungkin
lebih dari yang kita harapkan.
Be positive thinking, suatu hari kelak ketika antum telah
menikah dengan orang lain -bukan dengan si dia yang antum idamkan-
niscaya antum takjub dengan kebahagiaan yang antum rasakan. Percayalah
banyak orang yang telah merasakan hal demikian.

Saya tak mungkin berbahagia tanpanya
Ini adalah perangkap, ia akan memenjarakan kita terus
menerus dalam kekecewaan. Perasaan ini juga menghambat kita untuk
mendapatkan kesempatan berbahagia dengan orang lain. Mereka yang terus
menerus mengingat orang yang pernah menolaknya, dan masih terbius
dengan angan-angannya sebenarnya tengah menyiksa perasaan mereka
sendiri dan menutup peluang untuk bahagia.
Mari berpikir jernih, untuk apa memikirkan orang lain
yang sudah menjalani kehidupannya sendiri? Jangan biarkan orang lain
membatalkan kebahagiaan kita. Diri kitalah yang bisa menciptakannya
sendiri. Untuk itu tanamkan optimisme dan keyakinan terhadap qadla
Allah SWT. Insya Allah, akan ada orang yang membahagiakan kita kelak.

Cinta membutuhkan waktu
“Maukah ukhti menjadi istri saya? Saya tunggu jawaban
ukhti dalam waktu 1 X 24 jam!” Masya Allah, cinta bukanlah martabak
telor yang bisa di tunggu waktu matangnya. Ia berproses, apalagi
berbicara rumah tangga, pastinya banyak pertimbangan-pertimbangan yang
harus dipikirkan. Ada unsur keluarga yang harus berperan. Selain juga
ada pilihan-pilihan yang mungkin bisa diambil.
Jadi harap dipahami bila kesempatan datangnya cinta itu
menunggu waktu. Seorang akhwat yang akan dilamar -contoh extrim pada
kasus diatas- bisa jadi tidak serta merta menjawab. Biarkanlah ia
berpikir dengan jernih sampai akhirnya ia melahirkan keputusan. Jadi
cara berpikir seperti di atas sebenarnya lebih cocok dimiliki anggota
tim SWAT ketimbang orang yang berkhitbah

Ideal bagus, Tapi realistik adalah sempurna
“Suami yang saya dambakan adalah yang bertanggungjawab
pada keluarga, giat berdakwah dan rajin beribadah, cerdas serta
pengertian, penyayang, humoris, mapan dan juga tampan.” Itu mungkin
suami dambaan anda duhai Ukhti. tapi jangan marah bila saya katakan
bahwa seandainya kriteria itu adalah harga mati yang tak tertawar,
maka yang ukhti butuhkan bukanlah seorang ikhwan melainkan kitab-kitab
pembinaan.
Kenyataannya tidak ada satupun lelaki didunia ini yang
bisa memenuhi semua keinginan kita. Ada yang mapan tapi kurang
rupawan, ada yang rajin beribadah tapi kurang mapan, ada yang giat
dakwah dakwah tapi selalu merasa benar sendiri, dan sebagainya.
Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki kriteria bagi
calon suami/istri kita, tapi realistislah, setiap menusia punya
kekurangan sekaligus kelebihan. Mereka yang menikah adalah orang-orang
yang berani menerima kekurangan pasangannya, bukan orang-orang yang
sempurna. Tapi berpikir realistis terhadap orang yang akan melamar
kita, atau yang akan kita lamar, adalah kesempurnaan.
Maka doa kita kepada Allah bukanlah, “berikanlah
padaku pasangan yang sempurna” tetapi “ya Allah, karuniakanlah padaku
pasangan yang baik bagi agamaku dan duniaku.”

Kekuatan Ruhiyah
Percaya diri itu harus, tapi overselfconfidence adalah
kesalahan. Jangan terlalu percaya diri akhi bahwa lamaran antum
diterima. Jangan juga terlalu yakin ukhti, bahwa sang pujaan akan
datang ke rumah anti. Perjodohan adalah perkara gaib. Tanpa ada
seorang pun yang tahu kapan dan dengan siapa kita akan berjodoh. Cinta
dan berjodohan tidak mengenal status dan identifikasi fisik. Bukan
karena ukhti cantik maka para ikhwan menyukai ukhti. Juga bukan karena
akhi seorang hamalatud dafwah lalu setiap akhwat mendambakannya.
Kita tidak bisa mengukur kebahagiaan orang lain menurut
persepsi kita. Bukankah sering kita melihat seseorang yang menurut
kita “luar biasa” berjodoh dengan yang biasa-biasa saja. Seperti
seringnya kita melihat pasangan yang ganteng dan cantik, populer tapi
kemudian berpisah. Inilah rahasia cinta dan perjodohan, tidak bisa
terukur dengan ukuran-ukuran manusia.
Maka landasilah rasa percaya diri kita dengan sikap
tawakal kepada Allah. Kita berserah diri kepadaNya akan keputusan yang
ia berikan. Jauhilah sikap takkabur dan sombong. Karena itu semua
hanya akan membuat diri kita rendah dihadapan Allah dan orang lain.
Intinya saya bermaksud mengatakan jangan ke-ge-er-an dengan segala
title dan atribut yang melekat pada diri kita.

Beri cinta kesempatan (lagi)
“… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang
kafir.” (QS. Yusuf [12] : 87).
Bersedih hati karena gagal bersanding dengan dambaan hati wajar
adanya. Tapi bukan alasan untuk menyurutkan langkah berumah tangga.
Dunia ini luas, demikian pula dengan orang-orang yang mencintai kita.
Kegagalan cinta bukan berarti kita tidak berhak bahagia atau tidak
bisa meraih kebahagiaan. Bila hari ini Allah belum mempertemukan kita
dengan orang yang kita cintai, Insya Allah ia akan datang esok atau
lusa, atau kapanpun ia menghendaki, itu adalah bagian dari
kekuasaanNya.
Cinta juga berproses. Ia membutuhkan waktu. Ia bisa
datang dengan cepat tak terduga atau mungkin tidak seperti yang kita
harapkan. Ada orang yang dengan cepat berumah tangga, tapi ada pula
yang merasakan segalanya berjalan lambat, namun tidak pernah ada kata
terlambat untuk merasakan kebahagiaan dalam pernikahan. Beri
kesempatan diri kita untuk kembali merasakan kehangatan cinta. glove
is knocking outside the doorh. Tidak pernah ada kata menyerah untuk
meraih kebahagiaan dalam naungan ridhoNya. Yang pokok, ikhwan atau
akhwat yang kelak akan menjadi pasangan kita adalah mereka yang
dirihoi agamanya.
“Jika melamar kepada kalian seseorang yang kalian ridho
agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah ia, bila kalian tidak
melakukannya maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang
nyata.” (HR. Turmudzi).
“Wanita dinikahi karena satu dari tiga hal; dinikahi
karena hartanya, dinikahi karena kecantikannya, dinikahi karena
agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama dan akhlak (mulia) niscaya
selamat dirimu.” (HR. Ahmad)

MELALUI JAMA’AH

Kita berhenti sebentar pada permulaan pembicaraan tentang “jama’ah”.

Kita berhenti sejenak mengingat-ingat sasaran perjuangan kita dan melayangkan pandangan sekilas pada jalan yang mengantarkan kepada sasaran tersebut serta membongkar sikap musuh kita yang senantiasa mengintai kita.

Kiranya ini suatu pemberhentian yang penting dan diperlukan untuk memudahkan pembicaraan tentang “jama’ah” dan memantapkan kita dalam memahami motif-motif dan alasan-alasan yang mengharuskan bekerja secara berjama’ah.

Tentang sasaran perjuangan kita, maka sesungguhnya Allah Ta’ala telah memerintah kita:

“Tegakkanlah agama dan janganlah bercerai-berai tentangnya!” (As-Syura: 13)

Dan itu telah kita bagi menjadi dua sasaran pokok:

Pertama: Menghambakan manusia kepada Tuhan mereka.

Kedua: Menegakkan kekhalifahan menurut manhaj nubuwah.

Kemudian, mari melayangkan pandangan kepada jalan yang menyampaikan kita kepada sasaran-sasaran ini, yang kita telah berkomitmen untuk melewatinya, atau lebih tepatnya yang telah diwajibkan oleh “Pemberi Syariat” Yang Mahasuci supaya kita berjalan melaluinya.

Jalan perjuangan kita adalah ungkapan yang menggambarkan tiga kewajiban –di antaranya ada yang fardhu kifayah dan ada yang fardhu ‘ain- yaitu:

Dakwah, Amar Ma’ruf Nahyi Munkar/Hisbah, dan Jihad Fi Sabilillah.

Ketiga-tiganya saling berkait berkelindan agar mewujudkan jalan tengah bagi kita yang akan mengantarkan kita menuju sasaran perjuangan kita.

Dengan pandangan sekilas, kita dapat mengerti secara jelas bahwa jalan perjuangan kita yang meliputi ketiga kewajiban tersebut sulit, tidak lempang, dan untuk berjalan di tengah-tengahnya memerlukan kesungguhan kerja yang besar dan pengorbanan yang banyak sehingga memungkinkan kita mengatasi segala kesulitannya, menanggung susah-payahnya, melawan musuh-musuh yang senantiasa menanti kita pada seluruh sisi jalan, dan melewati semuanya itu untuk mencapai sasaran perjuangan.

Kita juga tidak akan lupa, untuk memahami sikap musuh-musuh kita, mengidentifikasi jumlah mereka, perlengkapan mereka, daerah-daerah basis, dan komando mereka.

Musuh kita banyak, yaitu:

Kaum Nasrani, Yahudi, Atheis, Paganis, penyembah sapi, penyembah api, orang-orang murtad, para penguasa kita yang sekuler, yang mengganti syariat Islam, para pendukung mereka, kelompok-kelompok yang mengaku Islam tapi menolak syariat-syariatnya, dan kaum munafik.

Tentang senjata mereka:

Mereka memiliki media informasi, pengajaran, sarana pendidikan dan penerangan. Mereka ditunjang kekuasaan dan senjata. Mereka memiliki tentara yang banyak dengan perlengkapannya yang memiliki daya musnah.

Semua musuh ini –dengan segala perangkatnya- bersikap menanti kita, kapan kita mulai menginjakkan kaki pada permulaan jalan, yang pada saat itu semua peluru akan dihamburkan dan ditembakkan kepada kita oleh bala tentaranya, dan mereka membuat tipu daya terhadap kita untuk menghalangi dan memukul balik kita kembali, atau menghancurkan kita dan memotong usaha kita menuju sasaran perjuangan.

Musuh-musuh ini tidak dan tidak akan bosan-bosannya berperang melawan kita dan agama kita, karena sesungguhnya inilah pekerjaan yang menyibukkan mereka:

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (Al-Baqarah: 217)

“Mereka ingin memadamkan cahaya agama Allah dengan mulut-mulut mereka.” (At-Taubah: 32)

Mari kita bertanya pada diri kita sendiri:

Mungkinkah kita berjalan sendiri-sendiri menunaikan kewajiban-kewajiban syariat ini, yaitu Dakwah, Amar Ma’ruf Nahyi Munkar/Hisbah, dan Jihad Fi Sabilillah sehingga akan gugur dosa kita dan terwujud tujuannya?

Mungkinkah kita sendiri-sendiri mengatasi tipu daya dan serangan musuh yang tidak diragukan lagi akan memerangi kita, hanya karena kita menginjakkan kaki pada permulaan jalan perjuangan?

Apakah kita mampu mewujudkan sasaran-sasaran yang kita incar dengan usaha-usaha individual?

Orang yang berakal tidak dapat menjawab satu pun dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan itu dengan jawaban “Ya!”.

Sesungguhnya, usaha-usaha individual yang terserak-serak pasti tidak berdaya melanjutkan jalannya perjuangan dan akan terputus setelah satu langkah atau beberapa langkah.

Jejaknya akan segera hilang, jalan perjuangan akan tetap sulit sebagaimana adanya, dan musuh akan tetap kuat dan menunggu-nunggu kemunculan kita sebagaimana adanya.

Ini kalau tidak malah mempersulit jalan perjuangan, memperjauh jarak sasaran dan melipatgandakan kekuatan musuh karena panjangnya masa.

Lalu, setiap pejuang datang menempuh jalan perjuangan dari awal dengan terputus dari perjuangan orang sebelumnya dan terpisah dari orang-orang disekitarnya.

Maka, perjuangannya akan berhenti sebagaimana orang-orang yang lain sebelumnya. Ia akan binasa atau berbalik haluan.

Setiap usaha individual yang terpencar-pencar selalu akan sirna jejaknya dihembus angin lalu.

Sesungguhnya agama kita –yang sempurna, universal dan pamungkas- tidak sepantasnya melalaikan urusan seperti ini. Tidak seyogianya ia lalai dari urusan seperti ini. Tidak sepatutnya ia membiarkan para pengikutnya menjadi mangsa musuh-musuhnya sedemikian rupa.

Sesungguhnya agama kita menyadari kesulitan jalan perjuangan dan kesukaran beban kewajiban yang dipikulkan pada pundak para pengikutnya dan mengerti juga kejahatan perangai semua musuh, serta mengerti tabiat konfrontasi yang berat dan multi dimensi, yang akan terjadi antara para pengikutnya dan musuh-musuhnya.

Maka, ketentuan-ketentuan syariat agama ini datang dengan membawa solusi yang paling ideal untuk menghadapi kesulitan ini.

Syariat agama ini datang membawa prinsip-prinsip yang memungkinkan kita membangun di atasnya dan menegakkan gerakan Islam aktual yang mampu menghadapi kejahiliyahan, memotong jalannya serta mewujudkan sasaran perjuangan.

Hendaklah kita konsisten melaksanakan perintah agama kita, kalau kita benar-benar dan sungguh-sungguh berusaha menuju sasaran perjuangan kita.

Agama kita telah memerintahkan kita:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Ibnu Katsir berkata:

“Allah telah memerintahkan mereka agar berjama’ah dan melarang mereka berpecah-belah. Banyak hadits yang melarang berpecah-belah dan memerintahkan untuk berjama’ah dan bersatu.”

Al-Qurthubi berkata tentang tafsir ayat ini: Ibnu Abbas pernah berkata kepada Sammak Al-Hanafi:

“Hai Hanafi! Peliharalah jama’ah, peliharalah jama’ah! Karena sesungguhnya umat-umat yang lalu binasa lantaran perpecahannya. Bukankah engkau telah mendengar Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Berpeganglah pada tali Allah seluruhnya dan janganlah berpecah-belah.”’

Al-Qurthubi berkata:

“Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah, yang berkata: Rasulullah saw. bersabda: ‘Sesungguhnya Allah meridhai bagi kalian tiga hal dan membenci bagi kalian tiga hal. Meridhai bagi kalian kalau kalian beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, kalian berpegang teguh pada tali Allah seluruhnya dan tidak berpecah belah. Dan Allah membenci bagi kalian tiga hal: Gosip, banyak bertanya, dan penghambur-hamburan harta.’

Allah Ta’ala mewajibkan mereka agar berpegang teguh pada Kitab-Nya dan merujuk kepadanya ketika terjadi perselisihan pendapat dan memerintahkan kepada kita agar berjama’ah dan berpegang pada Al-Kitab dan As-Sunah dalam berkeyakinan dan beramal.

Itulah sebab yang membawa kepada kesepakatan kata dan terhimpunnya persatuan. Dengannya terwujud kebaikan dunia dan agama serta keselamatan dari perselisihan. Dia memerintahkan kita agar berjama’ah dan melarang kita dari perpecahan yang telah menimpa dua golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani).”

Al-Qurthubi juga mensitir ucapan Ibnu Mas’ud:

“Dan berpeganglah pada tali Allah seluruhnya dan janganlah berpecah belah!” dikatakan bahwa maksudnya adalah berjama’ah, karena sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan, karena perpecahan adalah kebinasaan sedangkan jama’ah adalah keselamatan.”

Agama kita benar-benar memerintahkan kepada kita:

“Hendaklah kalian menegakkan agama dan jangan berpecah belah di dalamnya!” (Asy-Syura: 13)

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (Al-An’am: 153)

Ali ra. berkata:

“Janganlah kalian berpecah belah! Jama’ah adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah adzab!”

Ibnu Abbas berkata tentang dua ayat tersebut:

“Allah Ta’ala telah memerintah orang-orang beriman agar berjama’ah serta melarang mereka berselisih dan berpecah belah.”

Penafsiran semacam ini juga diriwayatkan dari Mujahid dan lain-lain, yang disebutkan oleh Ibnu Katsir.

Sesungguhnya agama kita menyuruh kita:

“Dua orang itu lebih baik daripada seorang, tiga orang itu lebih baik daripada dua orang, dan empat orang itu lebih baik daripada tiga orang. Hendaklah kalian berjama’ah!”

“Sesungguhnya setan itu serigala bagi manusia seperti halnya serigala bagi kambing, yang menerkam domba yang jauh terpisah. Maka jauhilah perpecahan, dan hendaklah kalian berjama’ah!” (HR. Ahmad)

Sesungguhnya agama kita mengajarkan:

“Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan itu sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.” (At-Taubah: 71)

“Dan barangsiapa mengambil selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Maidah: 56)

Sesungguhnya jama’ah dan amal jama’i adalah terjemahan satu-satunya dari perintah Allah dan Rasul-Nya untuk bersatu dan meniadakan perpecahan, untuk tolong menolong dalam perbuatan baik dan takwa, dan untuk berpegang teguh pada agama-Nya.

Jama’ah merupakan gambaran yang benar dari perwalian dan loyalitas yang sempurna antara orang-orang beriman.

Meninggalkan amal jama’i, mengutamakan individualisme dan aksi sporadis, berarti melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya, menjerumuskan diri dalam perpecahan, meninggalkan persatuan, mengabaikan tolong-menolong dalam perbuatan baik dan mengurangi tingkat perwalian kepada orang-orang beriman.

Semua itu cukup memadai untuk dijadikan sebagai alasan dan sebab yang mengharuskan kita untuk mengadopsi jama’ah sebagai metode perjuangan dan memilih jama’ah sebagai satu-satunya jalan untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya, dalam pelaksanaan perintah-perintah ini.

Tetapi, ini bukanlah satu-satunya alasan dan sebab yang mewajibkan jama’ah sebagai metode perjuangan. Masih ada satu alasan penting yang juga tidak diabaikan oleh agama kita.

Sesungguhnya agama kita benar-benar menetapkan:

“Sesuatu yang tanpa keberadaannya kewajiban tidak terlaksana, maka sesuatu itu menjadi wajib.”

Betapa banyaknya kewajiban yang difardhukan kepada kita, tetapi sama sekali tidak mungkin dilaksanakan –sesuai dengan yang diperintahkan syariat kecuali dengan melaksanakan jama’ah dan amal jama’i.

Menegakkan agama yang diperintahkan syara’ kepada kita berdasarkan firman-Nya Yang  Mahasuci: “Tegakkanlah agama!” menuntut adanya konfrontasi total dengan seluruh musuh kita yang ingin menegakkan kejahiliyahan.

Konfrontasi ini untuk menggulingkan pemerintahan sekuler kafir, memerangi kelompok-kelompok yang menolak syariat islam, dan disamping konfrontasi terhadap kejahiliyahan dalam berbagai bidang, baik dalam bidang penerangan, pengajaran, pengarahan, pendidikan dan lain-lainnya yang mengharuskan kita terjun di berbagai lapangan, sehingga pergerakan Islam mampu menghadapi dan mengalahkan kejahiliyahan dalam pergulatan menegakkan agama.

Semua perintah wajib ini tidak sulit dilaksanakan sesuai dengan tuntutan syara’ kecuali dengan perjuangan secara jama’ah yang terkoordinasi.

Dengan demikian, perjuangan secara berjama’ah menjadi wajib berdasarkan qaidah ushul fiqih “Sesuatu yang tanpa keberadaannya suatu kewajiban tidak bisa disempurnakan, maka dia menjadi wajib”.

Maka, amal jama’i dengan segala konsekuensinya berupa penghimpunan dan pengaturan barisan, pemilihan pemimpin untuknya, distribusi tugas berdasarkan kecakapan masing-masing, perencanaan program-program aktivitas, pengaturan langkah-langkahnya, dan pengusahaan untuk memperoleh sumber-sumber kekuatan; semua ini menjadi sesuatu yang wajib. Tidak ada jalan untuk mengelak dari itu.

Makna pertama dari tindakan meninggalkan amal jama’i adalah kita mendurhakai dan melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya. Tindakan tersebut juga berarti bahwa kita akan meninggalkan kewajiban-kewajiban dan syariat-syariat agama ini lebih banyak lagi tanpa menegakkannya.

Hari ini, ajaran agama ini tidak dilaksanakan kecuali beberapa syiar dan ritual ibadahnya. Adapun ajarannya dalam bidang muamalat dan perekonomian; di bidang pemerintahan, perundang-undangan dan hukum; adapun hukum hudud dan qishash, adapun hukum peperangan dan perdamaian, semua itu ditegakkan dan dilaksanakan oleh ajaran jahiliyah dan di atasnya dibangun hukum-hukum jahiliyah.

Menegakkan agama di seluruh bidang di atas –sebagaimana telah kami kemukakan- memerlukan konfrontasi keras dengan kejahiliyahan, dengan berbagai macam jalan, bertumpu pada beraneka poros, serta dengan menggunakan segala jenis senjata dan sarana.

Sulit bagi kita untuk menghadapi kejahiliyahan kecuali kalau kita bahu-membahu, menyatukan barisan, serta berpegang teguh pada agama kita.

Tanpa itu, maka menegakkan agama hanya akan menjadi impian dan uthopia. Tidak mungkin mewujudkannya, bahkan tidak mungkin mengkhayalkan terwujudnya.

Sesungguhnya kaum muslimin mempunyai sasaran-sasaran perjuangan yang tidak mungkin berubah dari sekedar angan-angan dan harapan menjadi kenyataan, selain dengan aktivitas kolektif yang intens, konsisten dengan ketentuan syariat, dan memiliki gerakan yang terorganisir.

Inilah jalan satu-satunya mengubah sasaran perjuangan menjadi kemauan dan tekad, menerjemahkan peranannya menjadi program kerja dan langkah-langkah yang bisa merealisasikan tujuan dengan izin Allah. Agar angan-angan menjadi kenyataan, impian menjadi fakta dan agar sasaran perjuangan terwujud.

Wallahu A’lam.