MELALUI JAMA’AH

Kita berhenti sebentar pada permulaan pembicaraan tentang “jama’ah”.

Kita berhenti sejenak mengingat-ingat sasaran perjuangan kita dan melayangkan pandangan sekilas pada jalan yang mengantarkan kepada sasaran tersebut serta membongkar sikap musuh kita yang senantiasa mengintai kita.

Kiranya ini suatu pemberhentian yang penting dan diperlukan untuk memudahkan pembicaraan tentang “jama’ah” dan memantapkan kita dalam memahami motif-motif dan alasan-alasan yang mengharuskan bekerja secara berjama’ah.

Tentang sasaran perjuangan kita, maka sesungguhnya Allah Ta’ala telah memerintah kita:

“Tegakkanlah agama dan janganlah bercerai-berai tentangnya!” (As-Syura: 13)

Dan itu telah kita bagi menjadi dua sasaran pokok:

Pertama: Menghambakan manusia kepada Tuhan mereka.

Kedua: Menegakkan kekhalifahan menurut manhaj nubuwah.

Kemudian, mari melayangkan pandangan kepada jalan yang menyampaikan kita kepada sasaran-sasaran ini, yang kita telah berkomitmen untuk melewatinya, atau lebih tepatnya yang telah diwajibkan oleh “Pemberi Syariat” Yang Mahasuci supaya kita berjalan melaluinya.

Jalan perjuangan kita adalah ungkapan yang menggambarkan tiga kewajiban –di antaranya ada yang fardhu kifayah dan ada yang fardhu ‘ain- yaitu:

Dakwah, Amar Ma’ruf Nahyi Munkar/Hisbah, dan Jihad Fi Sabilillah.

Ketiga-tiganya saling berkait berkelindan agar mewujudkan jalan tengah bagi kita yang akan mengantarkan kita menuju sasaran perjuangan kita.

Dengan pandangan sekilas, kita dapat mengerti secara jelas bahwa jalan perjuangan kita yang meliputi ketiga kewajiban tersebut sulit, tidak lempang, dan untuk berjalan di tengah-tengahnya memerlukan kesungguhan kerja yang besar dan pengorbanan yang banyak sehingga memungkinkan kita mengatasi segala kesulitannya, menanggung susah-payahnya, melawan musuh-musuh yang senantiasa menanti kita pada seluruh sisi jalan, dan melewati semuanya itu untuk mencapai sasaran perjuangan.

Kita juga tidak akan lupa, untuk memahami sikap musuh-musuh kita, mengidentifikasi jumlah mereka, perlengkapan mereka, daerah-daerah basis, dan komando mereka.

Musuh kita banyak, yaitu:

Kaum Nasrani, Yahudi, Atheis, Paganis, penyembah sapi, penyembah api, orang-orang murtad, para penguasa kita yang sekuler, yang mengganti syariat Islam, para pendukung mereka, kelompok-kelompok yang mengaku Islam tapi menolak syariat-syariatnya, dan kaum munafik.

Tentang senjata mereka:

Mereka memiliki media informasi, pengajaran, sarana pendidikan dan penerangan. Mereka ditunjang kekuasaan dan senjata. Mereka memiliki tentara yang banyak dengan perlengkapannya yang memiliki daya musnah.

Semua musuh ini –dengan segala perangkatnya- bersikap menanti kita, kapan kita mulai menginjakkan kaki pada permulaan jalan, yang pada saat itu semua peluru akan dihamburkan dan ditembakkan kepada kita oleh bala tentaranya, dan mereka membuat tipu daya terhadap kita untuk menghalangi dan memukul balik kita kembali, atau menghancurkan kita dan memotong usaha kita menuju sasaran perjuangan.

Musuh-musuh ini tidak dan tidak akan bosan-bosannya berperang melawan kita dan agama kita, karena sesungguhnya inilah pekerjaan yang menyibukkan mereka:

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (Al-Baqarah: 217)

“Mereka ingin memadamkan cahaya agama Allah dengan mulut-mulut mereka.” (At-Taubah: 32)

Mari kita bertanya pada diri kita sendiri:

Mungkinkah kita berjalan sendiri-sendiri menunaikan kewajiban-kewajiban syariat ini, yaitu Dakwah, Amar Ma’ruf Nahyi Munkar/Hisbah, dan Jihad Fi Sabilillah sehingga akan gugur dosa kita dan terwujud tujuannya?

Mungkinkah kita sendiri-sendiri mengatasi tipu daya dan serangan musuh yang tidak diragukan lagi akan memerangi kita, hanya karena kita menginjakkan kaki pada permulaan jalan perjuangan?

Apakah kita mampu mewujudkan sasaran-sasaran yang kita incar dengan usaha-usaha individual?

Orang yang berakal tidak dapat menjawab satu pun dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan itu dengan jawaban “Ya!”.

Sesungguhnya, usaha-usaha individual yang terserak-serak pasti tidak berdaya melanjutkan jalannya perjuangan dan akan terputus setelah satu langkah atau beberapa langkah.

Jejaknya akan segera hilang, jalan perjuangan akan tetap sulit sebagaimana adanya, dan musuh akan tetap kuat dan menunggu-nunggu kemunculan kita sebagaimana adanya.

Ini kalau tidak malah mempersulit jalan perjuangan, memperjauh jarak sasaran dan melipatgandakan kekuatan musuh karena panjangnya masa.

Lalu, setiap pejuang datang menempuh jalan perjuangan dari awal dengan terputus dari perjuangan orang sebelumnya dan terpisah dari orang-orang disekitarnya.

Maka, perjuangannya akan berhenti sebagaimana orang-orang yang lain sebelumnya. Ia akan binasa atau berbalik haluan.

Setiap usaha individual yang terpencar-pencar selalu akan sirna jejaknya dihembus angin lalu.

Sesungguhnya agama kita –yang sempurna, universal dan pamungkas- tidak sepantasnya melalaikan urusan seperti ini. Tidak seyogianya ia lalai dari urusan seperti ini. Tidak sepatutnya ia membiarkan para pengikutnya menjadi mangsa musuh-musuhnya sedemikian rupa.

Sesungguhnya agama kita menyadari kesulitan jalan perjuangan dan kesukaran beban kewajiban yang dipikulkan pada pundak para pengikutnya dan mengerti juga kejahatan perangai semua musuh, serta mengerti tabiat konfrontasi yang berat dan multi dimensi, yang akan terjadi antara para pengikutnya dan musuh-musuhnya.

Maka, ketentuan-ketentuan syariat agama ini datang dengan membawa solusi yang paling ideal untuk menghadapi kesulitan ini.

Syariat agama ini datang membawa prinsip-prinsip yang memungkinkan kita membangun di atasnya dan menegakkan gerakan Islam aktual yang mampu menghadapi kejahiliyahan, memotong jalannya serta mewujudkan sasaran perjuangan.

Hendaklah kita konsisten melaksanakan perintah agama kita, kalau kita benar-benar dan sungguh-sungguh berusaha menuju sasaran perjuangan kita.

Agama kita telah memerintahkan kita:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Ibnu Katsir berkata:

“Allah telah memerintahkan mereka agar berjama’ah dan melarang mereka berpecah-belah. Banyak hadits yang melarang berpecah-belah dan memerintahkan untuk berjama’ah dan bersatu.”

Al-Qurthubi berkata tentang tafsir ayat ini: Ibnu Abbas pernah berkata kepada Sammak Al-Hanafi:

“Hai Hanafi! Peliharalah jama’ah, peliharalah jama’ah! Karena sesungguhnya umat-umat yang lalu binasa lantaran perpecahannya. Bukankah engkau telah mendengar Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Berpeganglah pada tali Allah seluruhnya dan janganlah berpecah-belah.”’

Al-Qurthubi berkata:

“Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah, yang berkata: Rasulullah saw. bersabda: ‘Sesungguhnya Allah meridhai bagi kalian tiga hal dan membenci bagi kalian tiga hal. Meridhai bagi kalian kalau kalian beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, kalian berpegang teguh pada tali Allah seluruhnya dan tidak berpecah belah. Dan Allah membenci bagi kalian tiga hal: Gosip, banyak bertanya, dan penghambur-hamburan harta.’

Allah Ta’ala mewajibkan mereka agar berpegang teguh pada Kitab-Nya dan merujuk kepadanya ketika terjadi perselisihan pendapat dan memerintahkan kepada kita agar berjama’ah dan berpegang pada Al-Kitab dan As-Sunah dalam berkeyakinan dan beramal.

Itulah sebab yang membawa kepada kesepakatan kata dan terhimpunnya persatuan. Dengannya terwujud kebaikan dunia dan agama serta keselamatan dari perselisihan. Dia memerintahkan kita agar berjama’ah dan melarang kita dari perpecahan yang telah menimpa dua golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani).”

Al-Qurthubi juga mensitir ucapan Ibnu Mas’ud:

“Dan berpeganglah pada tali Allah seluruhnya dan janganlah berpecah belah!” dikatakan bahwa maksudnya adalah berjama’ah, karena sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan, karena perpecahan adalah kebinasaan sedangkan jama’ah adalah keselamatan.”

Agama kita benar-benar memerintahkan kepada kita:

“Hendaklah kalian menegakkan agama dan jangan berpecah belah di dalamnya!” (Asy-Syura: 13)

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (Al-An’am: 153)

Ali ra. berkata:

“Janganlah kalian berpecah belah! Jama’ah adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah adzab!”

Ibnu Abbas berkata tentang dua ayat tersebut:

“Allah Ta’ala telah memerintah orang-orang beriman agar berjama’ah serta melarang mereka berselisih dan berpecah belah.”

Penafsiran semacam ini juga diriwayatkan dari Mujahid dan lain-lain, yang disebutkan oleh Ibnu Katsir.

Sesungguhnya agama kita menyuruh kita:

“Dua orang itu lebih baik daripada seorang, tiga orang itu lebih baik daripada dua orang, dan empat orang itu lebih baik daripada tiga orang. Hendaklah kalian berjama’ah!”

“Sesungguhnya setan itu serigala bagi manusia seperti halnya serigala bagi kambing, yang menerkam domba yang jauh terpisah. Maka jauhilah perpecahan, dan hendaklah kalian berjama’ah!” (HR. Ahmad)

Sesungguhnya agama kita mengajarkan:

“Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan itu sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.” (At-Taubah: 71)

“Dan barangsiapa mengambil selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Maidah: 56)

Sesungguhnya jama’ah dan amal jama’i adalah terjemahan satu-satunya dari perintah Allah dan Rasul-Nya untuk bersatu dan meniadakan perpecahan, untuk tolong menolong dalam perbuatan baik dan takwa, dan untuk berpegang teguh pada agama-Nya.

Jama’ah merupakan gambaran yang benar dari perwalian dan loyalitas yang sempurna antara orang-orang beriman.

Meninggalkan amal jama’i, mengutamakan individualisme dan aksi sporadis, berarti melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya, menjerumuskan diri dalam perpecahan, meninggalkan persatuan, mengabaikan tolong-menolong dalam perbuatan baik dan mengurangi tingkat perwalian kepada orang-orang beriman.

Semua itu cukup memadai untuk dijadikan sebagai alasan dan sebab yang mengharuskan kita untuk mengadopsi jama’ah sebagai metode perjuangan dan memilih jama’ah sebagai satu-satunya jalan untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya, dalam pelaksanaan perintah-perintah ini.

Tetapi, ini bukanlah satu-satunya alasan dan sebab yang mewajibkan jama’ah sebagai metode perjuangan. Masih ada satu alasan penting yang juga tidak diabaikan oleh agama kita.

Sesungguhnya agama kita benar-benar menetapkan:

“Sesuatu yang tanpa keberadaannya kewajiban tidak terlaksana, maka sesuatu itu menjadi wajib.”

Betapa banyaknya kewajiban yang difardhukan kepada kita, tetapi sama sekali tidak mungkin dilaksanakan –sesuai dengan yang diperintahkan syariat kecuali dengan melaksanakan jama’ah dan amal jama’i.

Menegakkan agama yang diperintahkan syara’ kepada kita berdasarkan firman-Nya Yang  Mahasuci: “Tegakkanlah agama!” menuntut adanya konfrontasi total dengan seluruh musuh kita yang ingin menegakkan kejahiliyahan.

Konfrontasi ini untuk menggulingkan pemerintahan sekuler kafir, memerangi kelompok-kelompok yang menolak syariat islam, dan disamping konfrontasi terhadap kejahiliyahan dalam berbagai bidang, baik dalam bidang penerangan, pengajaran, pengarahan, pendidikan dan lain-lainnya yang mengharuskan kita terjun di berbagai lapangan, sehingga pergerakan Islam mampu menghadapi dan mengalahkan kejahiliyahan dalam pergulatan menegakkan agama.

Semua perintah wajib ini tidak sulit dilaksanakan sesuai dengan tuntutan syara’ kecuali dengan perjuangan secara jama’ah yang terkoordinasi.

Dengan demikian, perjuangan secara berjama’ah menjadi wajib berdasarkan qaidah ushul fiqih “Sesuatu yang tanpa keberadaannya suatu kewajiban tidak bisa disempurnakan, maka dia menjadi wajib”.

Maka, amal jama’i dengan segala konsekuensinya berupa penghimpunan dan pengaturan barisan, pemilihan pemimpin untuknya, distribusi tugas berdasarkan kecakapan masing-masing, perencanaan program-program aktivitas, pengaturan langkah-langkahnya, dan pengusahaan untuk memperoleh sumber-sumber kekuatan; semua ini menjadi sesuatu yang wajib. Tidak ada jalan untuk mengelak dari itu.

Makna pertama dari tindakan meninggalkan amal jama’i adalah kita mendurhakai dan melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya. Tindakan tersebut juga berarti bahwa kita akan meninggalkan kewajiban-kewajiban dan syariat-syariat agama ini lebih banyak lagi tanpa menegakkannya.

Hari ini, ajaran agama ini tidak dilaksanakan kecuali beberapa syiar dan ritual ibadahnya. Adapun ajarannya dalam bidang muamalat dan perekonomian; di bidang pemerintahan, perundang-undangan dan hukum; adapun hukum hudud dan qishash, adapun hukum peperangan dan perdamaian, semua itu ditegakkan dan dilaksanakan oleh ajaran jahiliyah dan di atasnya dibangun hukum-hukum jahiliyah.

Menegakkan agama di seluruh bidang di atas –sebagaimana telah kami kemukakan- memerlukan konfrontasi keras dengan kejahiliyahan, dengan berbagai macam jalan, bertumpu pada beraneka poros, serta dengan menggunakan segala jenis senjata dan sarana.

Sulit bagi kita untuk menghadapi kejahiliyahan kecuali kalau kita bahu-membahu, menyatukan barisan, serta berpegang teguh pada agama kita.

Tanpa itu, maka menegakkan agama hanya akan menjadi impian dan uthopia. Tidak mungkin mewujudkannya, bahkan tidak mungkin mengkhayalkan terwujudnya.

Sesungguhnya kaum muslimin mempunyai sasaran-sasaran perjuangan yang tidak mungkin berubah dari sekedar angan-angan dan harapan menjadi kenyataan, selain dengan aktivitas kolektif yang intens, konsisten dengan ketentuan syariat, dan memiliki gerakan yang terorganisir.

Inilah jalan satu-satunya mengubah sasaran perjuangan menjadi kemauan dan tekad, menerjemahkan peranannya menjadi program kerja dan langkah-langkah yang bisa merealisasikan tujuan dengan izin Allah. Agar angan-angan menjadi kenyataan, impian menjadi fakta dan agar sasaran perjuangan terwujud.

Wallahu A’lam.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: