AMRADHUD DA’WAH

AMRADHUD DA’WAH
Ust. M Ihsan Arlansyah Tanjung

Amradhud Da’wah merupakan materi yang membahas tentang
penyakit-penyakit dalam da’wah. Amradhud Da’wah terbagi menjadi 2
kelompok yaitu:

1. Penyakit-penyakit da’wah terkait dengan ma’nawiyah (moral)

Amradhud Da’wah kelompok ini terdiri dari:

a. Munculnya da’wah-da’wah yang bersifat infi’aliyah (reaktif )
Da’wah ini hanya memberikan reaksi karena aksi pihak lain. Da’wah ini
adalah da’wah yang tidak menyentuh substansi permasalahan karena ia
akan bergarak setelah ada aksi pihak lain yang tidak memiliki program
tersendiri.

b. Da’wah yang munculnya Al Wujahiyah (adanya figuritas)
Da’wah ini hanya mengharapkan hadir tidaknya seorang figur dan da’wah
seperti ini tidak akan langgeng. Dalam Hadistnya Rasulullah berwasiat
ketika haji wada’ ” Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara
yang dengannya kalian tidak akan sesat jika memeganggang teguh
keduanya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah” , ini berarti Rasulullah
mendidik untuk berorientasi kepada program bukan kepada figur. Da’wah
seperti ini banyak menimbulkan masalah karena jika figur dalam
organisasi da’wah tersebut menghilang maka tercerai belahlah da’wah itu.

c. Da’wah yang bersifat Al `itijaziyah
Da’wah ini bersifat bahwa hanya kelompok da’wahnyalah yang terbaik
sehingga para anggota kelompok da’wah tersebut merasa ujub (paling
hebat) dan mengakibatkan tidak dapat melihat kekurangan atau kelemahan
dirinya. Da’wah ini juga menyebabkan anggotanya menjadi ghurur (terlena).

d. Da’wah yang bersifat Al intiqasiyah
Da’wah yang selalu mengecilkan pihak lain sehingga
organisasi-organisasi da’wah yang lain tidak dianggap mitra da’wahnya
. Penyakit da’wah seperti ini biasanya seiring dengan sifat da’wah Al
`Itijaziyah.

2. Penyakit-penyakit da’wah yang terkait dengan amaliyah (operasional)

Amradhud da’wah yang terkait dengan amaliyah terdiri dari :

a. Da’wah yang juz’iyah (bersifat lokal)
Da’wah ini hanya bersifat sektoralisme yang seharusnya sumuliyah
(segala aspek).

b. Da’wah yang At Ta’lidiyah
Da’wah ini membuat para anggotanya hanya mengikuti sesuatu tanpa
memahami. Dalam kelompok da’wah harus dilakukan secara bashiroh
(hujjah yang nyata) sebagaimana dalam Qs.12 : 108. Imam Hasan Al Bana
menekankan dalam merumuskan pilar-pilar komitmen pada da’wah Islamiyah
adanya 10 rukun bai’at pada rukun yang pertamanya dan utama adalah
rukun Al Fahmu.

c. Da’wah yang Al Afwaiyah atau Al Irtijaliyah
Da’wah yang tidak mempunyai kejelasan, tidak ada sasaran dan
perencanaan sehingga tidak ada yang dapat dievaluasi. Setiap anggota
da’wah harus mempunyai wawasan kedepan sesuai dengan Qs. 59 : 18.

d. Da’wah yang At Tarki’iyah
Da’wah yang tambal sulam yang seharusnya da’wah inqilabiyah yaitu
menginginkan perubahan yang total. Ungkapan Sayyid Qutb “Bagaiman
mungkin dunia yang sekarang tengelam dalam kejahiliyahan kemudian
sekali-sekali meminta Islam memberikan solusi kepada permasalahannya.
Semestinya Jalankan dahulu Islam secara menyeluruh baru menanyakan
masih adakah masalah yang dapat diselesaikan oleh Islam”. Da’wah ini
harus menjelaskan kepada seluruh manusia ketika jalan hidup yang
ditempuh bukan jalan Allah sesungguhnya jalan tersebut adalah jalan
yang bathil yang harus ingkari. Dan mengajak umat manusia khususnya
umat Islam kepada Islam yang menyeluruh.

Sebagai solusi terhadap penyakit-penyakit da’wah baik dalam ma’nawiyah
atau amaliyah adalah dengan jalan membentuk Hizbullah yaitu suatu
tandzim (organisasi) dimana seluruh umat Islam masuk kedalam tandzim
tersebut. Dizaman yang tidak tegak khilafah Islam sekatrang ini maka
tidak dapat mengharapkan tandzim yang dapat menghimpun seluruh umat
Islam. Sejak runtuhnya khilafah Islam terakhir yaitu Daulah Usmani di
Turki pada tahun 1924 Sekarang ini munculnya Jama’atul-Jama’atul minal
Muslimin, seperti berdirinya Ikhwanul Muslimin di Mesir dengan
pendirinya Imam Hasan Al Bana, Hizbut Tahrir di Yordania, Jama’ah
Tabligh di Pakistan, Salaffi di Saudi Arabiyah dll. Ini merupakan
usaha untuk memberikan suatu penawaran kepada umat Islam pentingnya
ada hizbullah untuk menghimpun umat Islam yang penataannya mendunia
yang sifatnya tunggal dengan kepemimpinan yang mempersatukan umat
Islam yang disebut jama’atul Muslimin.Sekarang ini belum ada Jama’ah
Muslimin tetapi sudah terbentuk jama’ah minal Muslimin dan diharapkan
jama’ah-jama’ah minal Muslimin saling fastabikul khairat dan saling
bekerja sama.

Pertanyaan:
1. Bagaimana solusi mencari figuritas dizaman sekarang ini yang dapat
dijadikan tauladan selain Rasullah?
2. Bagaimana merasa kalau kelemahan umat Islam karena dirinya?

Jawaban :
1. Pada Qs. 33 : 21 menjelaskan bahwa pada diri Rasulullah terdapat
suri tauladan yang terbaik, ini berarti hanya Rasulullah yang patut
dijadikan tauladan yang tidak mempunyai sisi kelemahan sedangkan
dizaman sekarang ini jika ditemukan figur yang dijadikan tauladan
pasti akan ditemukan ketidak sempurnaan. Sekarang ini tidak dapat
diharapkan individual leader tetapi yang harus ada adalah kolektif
leadership yang terdiri dari beberapa sosok yang saling mengisi.
Seperti yang dikatakan oleh Imam Hasan Al Bana Sesungguhnya
sebaik-baiknya Qiyadah (pemimpin) adalah jika dalam hal istifadah
ilmiah (pemanfaatan keilmuannya) dia seorang ustad, dalam hal ribatil
qulb (keterikatan hatinya) dia seorang ayah, dalam hal tarbiyah
ruhiyah dia seorang syekh dan dalam hal siasia da’wah dia seorang
panglima.
2. Sikap seperti itu baik karena jangan dibiasakan ketika terdapat
permalahan mencari kambing hitam tetapi sebaiknya nmenyalahkan lebih
dahulu. Tetapi ada sisi kelemahannya kalau sikap ini terlalu dominan
akan menyebabkan rendah diri sampai akhirnya tidak akan melakukan
da’wah lagi. Sikap ini akan terpuji jika memacunya untuk memaksimalkan
kerjanya dengan keterbatasan dirinya.

Pertanyaan :
Apa tanggapan ustad dengan masyarakat sekarang ini yang tidak dapat
membedakan antara budaya hidup modern dan western sedang mereka banyak
terperangkap dengan pengaruh buruk dari budaya western?

Jawaban :
Hal ini banyak terjadi pada kaum muslimin khususnya bagi mereka yang
sempat merasakan pendidikan di barat (luar negeri) dan sebelum pergi
ke barat mereka belum mempunyai kepribadian Islam yang matang sehingga
belum kebal terhadap budaya hidup di barat, terlebih lagi terleena dan
terpesona dengan kemajuan di negeri barat dan bahayanya lagi setelah
pulang menganggap Islam tidak dapat memberi kontribusi apa-apa. Muslim
harus bersikap seperti yang disabdakan Rasulullah ” Hikmah adalah
barang mutiara milik muslim” jadi dimanapun ditemukan seorang
muslimlah yang paling berhak memanfaatkannya.

Pertanyaan:
Darimana umat Islam memulai untuk memperbaiki kelemahan-kelemahannya?
Jawaban:
Dari munculnya Hizbullah dari suatu barisan umat Islam yang telah
dihasilkan dari proses kaderisasi yang kader-kadernya mempunyai
beragam potensi dan kafaah (keahlian) masing-masing dan merekan
diberikan peluang seluas-luasnya untuk mengekspresikannya sehingga
akan muncul proses proyeksi, promosi dan nominasi kepemimpinan yang
akan datang. Dan proses itulah yang dilakukan Rasulullah saw ketika
mulai menggagaskan penataan barisan umat Islam sejak di Mekkah.
Kongkrotnya dilakukan dengan small islamic inpirement harus membentuk
kelompok-kelompok kecil, lingkungan pergaulan kaum muslimin yang
berada didalam suatu proses kaderisasi tarbiyah yang dibimbing oleh
seorang murabbi (pembina) yang mengoptimalkan potensi dan kafaah
binaannya.

Pertanyaan :
Apakah ada cara terbaik untuk menyelesaikan permasalahan umat Islam
secara keseluruhan?
Jawaban :
Gerakan da’wah menjadi inti perubahan umat maka aktivis da’wah harus
memperbaiki diri sendiri dahulu baru da’wah kepada orang lain.
Sekarang ini proyek Islam yang harus ditekankan pada kegiatan da’wah
dan tarbiyah. Da’wah dalam konteks yang umum mengajak orang yang tidak
faham Islam untuk mengenali Islam sedangkan tarbiyah untuk mengajak
orang yang sudah kenal Islam agar berubah menjadi kader-kader inti
dalam da’wah.

%d bloggers like this: